KELOMPOK UJI TAK RUSAK & PERUNUT INDUSTR

July 2, 2009 at 9:38 am Leave a comment

Kelompok NDT (NDT – Non Destructive Testing – Uji Tak Rusak) adalah unit kerja di bawah bidang Kebumian dan Lingkungan – PATIR BATAN yang mengemban tugas melaksanakan penelitian, pengembangan, dan kerjasama aplikasi NDT. Kelompok NDT ini merupakan disiplin yang tertua di BATAN dan cikal bakal NDT di Indonesia terutama di bidang teknik Radiografi. Yang dimaksud dengan Uji Tak Rusak adalah suatu metoda pengujian/pemeriksaan terhadap bahan-bahan atau material-material produk industri yang dalam pelaksanaannya tidak menimbulkan kerusakan (seperti deformasi, panas, kimia, korosif, dll) bagi material yang diperiksa tersebut. Dari sekian jenis teknik Uji Tak Rusak yang established ini dan telah lama dikenal/populer diantaranya mencakup 5 (lima) teknik pengujian yaitu Radiografi (RT-Radiographic Test), Ultrasonik (UT-Utrasonic Test), Magnetik Partikel (MPT-Magnetic Particle Test), Dye Penetrant (PT-Penetrant Test), dan Eddy Current Test (ECT- Eddy Current Test).

Masing-masing teknik pengujian ini mempunyai keunggulan dan kelemahan sehingga peran satu sama lain teknik saling melengkapi. Sebagai institusi riset yang bekerja menggunakan sumber radiasi nuklir, kelompok NDT berkepentingan memasyarakatkan teknik-teknik pengujian NDT dengan menekankan teknik radiografi sebagai ujung tombak penelitian dan pengembangan serta kerjasama aplikasi. Kegiatan penelitian dan pengembangan NDT ini telah dimulai sejak awal tahun 1970-an dengan dibangunnya laboratorium NDT dengan peralatan sederhana. Pada saat itu NDT masih dikuasai pihak asing sehingga keuntungan moril atau materil diraih mereka. Sesuai dengan perkembangan waktu, permintaan akan jasa dan kerja sama bidang NDT untuk industri semakin bertambah sehingga kegiatan penelitian, pengembangan, dan kerjasama aplikasi NDT pun makin marak. Karena permintaan jasa NDT yang begitu tinggi, PATIR-BATAN Pasar Jumat telah mengambil inisiatip mengajak pihak swasta maupun institusi lain untuk berpartisipasi dalam penyediaan kerjasama aplikasi NDT. Bentuk partisipasi pihak swasta dan intitusi lain adalah dengan mengirimkan para pekerja (SDM) mereka untuk dilatih ketrampilan khusus (diklat) menggunakan sumber radiasi dan menggunakan peralatan yang berhubungan dengan sumber radiasi tersebut. Tenaga ahli yang dihasilkan dari diklat tersebut (AR-Ahli Radiografi dan OR-Operator Radiografi) memicu tumbuh kembangnya perusahaan jasa inspeksi yang memberikan layanan jasa hingga saat itu terbilang puluhan perusahaan jasa inspeksi yang telah dibina sehingga secara perlahan dapat menggantikan peran tenaga asing.

Apilikasi NDT ; Radiographic testing:

Isotop Co-60, metode radiografi, ketebalan material > 2.5 inch

  • Pemeriksaan casting

  • Pemeriksaan forging

  • Pemeriksaan las (pressure vessel, sambungan pipa, boiler, dll)

  • Pemeriksaan beton bertulang, gedung, jembatan

  • Pemeriksaan fabrikasi

  • Pemeriksaan komponen alat-alat berat

Isotop Iridium-192, metode radiografi, ketebalan material steel 1.5 – 2.5 inch

  • Pemeriksaan casting

  • Pemeriksaan forging

  • Pemeriksaan las (pipe line, tangki, boiler, heat exchanger, dll)

  • Pemeriksaan fabrikasi

  • Pemeriksaan komponen kereta api, kapal laut dan pesawat terbang

Mesin X-ray KV-300 dan KV-160, metode radiografi, ketebalan material steel dan non steel tipis

  • Pemeriksaan las, wire, casting, fabrikasi

  • Pemeriksaan komponen mesin presisi

  • Pemeriksaan untuk sensitivitas tinggi

  • Pemeriksaan komponen pesawat terbang

  • Pemeriksaan komponen reaktor nuklir

  • Pemeriksaan material produk kayu, plastik/polimer, alumunium dan komponen non logam lain

Metoda ultrasonik, untuk pemeriksaan material steel dan beton

  • Pemeriksaan las, forging, casting dan fabrikasi

  • Pemeriksaan beton, homogenitas, strength beton, retak, tulangan dan keropos

  • Pemeriksaan komponen alat berat, mesin presisi

  • Pemeriksaan steel structure, civil engineering

  • Pemeriksaan pressure vessel, nozzle

Metode dye penetrant, untuk pemeriksaan logam dan non logam dengan berbagai teknik

  • Pemeriksaan retak pada permukaan material produk maupun komponen seperti di atas

Metode magnetic particle, untuk pemeriksaan material logam ferrous dengan berbagai teknik

  • Pemeriksaan retak dan non retak pada permukaan dan sub permukaan material ferrous troduk maupun komponen seperti tersebut di atas

Metode Edy current, untuk pemeriksaan material logam

  • Pemeriksaan komponen pesawat terbang

  • Pemeriksaan heat exchanger

  • Pemeriksaan metal tipis

  • Pemeriksaan pembungkus beton

Teknologi Pemindai Sinar Gamma

Teknologi Pemindai Sinar Gamma (atau disebut gamma scan) adalah salah satu teknik uji tak merusak yang menggunakan sumber gamma (Co-60 dan Cs-137) dan detektor sintilasi untuk menyelidiki kondisi material dalam suatu proses dalam kolom atau reaktor. Teknik ini bekerja berdasarkan interaksi sinar gamma yang dipancarkan sumber dengan material yang dilaluinya. Ketika sinar gamma melalui suatu material, sebagian sinar akan diabsorb dan sebagian akan diteruskan atau dipantulkan. Intensitas sinar yang dipancarkan sebelum dan sesudah melalui suatu material dihubungkan melalui persamaan sebagai berikut:

I = Io exp (-ux)

dimana I dan Io adalah intensitas sinar setelah dan sesudah melalui material (cps), u adalah koefisien atenuasi linear (cm-1) dan x adalah tebal material (cm).

Dari persamaan tersebut, jelas bahwa intensitas sinar yang diteruskan tergantung pada energi dari sinar gamma dan karakteristik material yang dilalui. Karenanya kurva pemindaian yang dihasilkan dari gamma scan akan merepresentasikan profil densitas material yang diuji. .

Kelebihan Gamma Scan

Beberapa kelebihan aplikasi gamma scan antara lain:

  1. Proses dalam bejana tidak harus dihentikan selama pemindaian berlangsung

  2. Data dapat langsung dianalisa selama pemindaian berlangsung sehingga permasalahan dapat langsung diketahui

  3. Dari dua hal di atas, maka proses pemindaian dapat berlangsung lebih singkat karena permasalahan dapat segera dilokalisir

  4. Hemat biaya

  5. Dapat mengetahui efisiensi proses yang berlangsung jika pemindaian dilangsungkan pada kondisi yang berbeda-beda

  6. Dapat mengurangi down-time produksi dengan menunjukkan kapan suatu proses harus berjalan dan kapan harus berhenti

  7. Membutuhkan aktivitas sumber sekitar 30 mCi – 1 Ci, lebih rendah daripada teknik radiografi sehingga relatif lebih aman

Pengukuran Laju Aliran

Aliran material baik dalam bentuk padatan, cairan atau gas, selalu ditemui dalam setiap sistem proses. Terlepas apakah nantinya tiap material ini akan bereaksi dengan material lain membentuk senyawa baru atau tidak, pengetahuan tentang sifat aliran material tersebut sangat penting untuk diketahui. Misal, semen dapat dibuat dari campuran material padat limestone, clay dan gypsum. Masing-masing senyawa ini harus bergerak dan bereaksi membentuk semen. Gas alam dan minyak bumi, yang masing-masing berbentuk material gas dan cairan,  harus dieksplorasi sebelum digunakan. Pergerakan semua material yang digambarkan diatas dapat dirunut dan diukur laju alirannya.

Pengukuran laju aliran fluida di dalam pipa transmisi biasanya dilakukan dengan alat ukur kecepatan (flow meter). Karena semua alat ukur kecepatan aliran bekerja secara mekanik, maka alat ukur ini harus dikalibrasi terlebih dahulu sebelum digunakan dan harus dikalibrasi secara berkala ketika sedang digunakan. Alat ukur yang tidak dikalibrasi dapat mengakibatkan kesalahan dalam pembacaan.

Teknik perunut memberikan solusi atas keterbatasan alat ukur konvensional tersebut. Teknik perunut ini di klaim sebagai teknik yang paling akurat untuk mengukur laju aliran fluida, karena teknik ini tidak memerlukan kalibrasi dan pengukuran laju aliran didasarkan pada aliran isotop yang mengikuti aliran fluida di dalam pipa. Prinsip pengukuran laju aliran di dalam pipa diperlihatkan pada gambar dibawah:  Isotop, dalam jumlah sedikit diinjeksikan ke dalam pipa sehingga isotop tersebut bercampur dan mengikuti aliran fluida di dalam pipa. Detektor (D1-D4) yang dipasang di atas pipa akan mencacah radiasi yang dipancarkan oleh isotop di dalam pipa. Makin besar konsentrasi isotop makin besar radiasi yang diterima detektor dan makin besar cacahan yang ditampilkan. Pengukuran laju aliran dihitung dengan cara menghitung waktu tempuh isotop dari D1 ke D2 dan dari D3 ke D4. Jika jarak D1-D2 adalah x dan D3-D4 adalah y diketahui dan aliran di dalam pipa adalah konstan maka laju aliran dapat dihitung.

Baja, tak Sekadar Logam

DALAM kehidupan sehari-hari, kita pasti sering melihat benda-benda yang terbuat dari baja, baik itu dalam lingkungan rumah tangga ataupun di lingkungan sekitar. Misalnya benda dari baja adalah kawat, sekrup, baut, pisau dan lain-lain. Bahkan sangat sering digunakan sebagai alat pendukung dalam kehidupan manusia seperti untuk mendirikan jembatan, rumah/gedung, dan lain-lain.

Baja adalah merupakan logam paduan, yang terdiri dari besi, karbon dan unsur lainnya. Dan pada umumnya baja diklasifikasikan lagi berdasarkan banyaknya kadar karbon yang dikandung dan juga berdasarkan banyaknya paduan yang dikandung. Karbon merupakan salah satu unsur yang sangat penting, karena dapat meningkatkan kekerasan dan kekuatan baja.

Besi sendiri berasal dari bijih besi yang dilebur dalam suatu tempat pembakaran yang dinamakan tanur tinggi. Bijih besi ini dicampur dengan kokas dan batu kapur yang kemudian dilebur dalam tanur tinggi. Jenis bijih besi yang lazim digunakan adalah hematite, magnetit, siderit, himosit dan lain-lain. Hematite (Fe203) adalah biji besi yang paling banyak digunakan, karena kadar besinya tinggi, sedang kadar kotorannya relatif rendah.

Diperkirakan, besi telah dikenal manusia sekira tahun 1200 SM. Pada zaman tersebut, manusia berpikir ingin memiliki sebuah benda yang kokoh, bertahan lama dan ekonomis sebagai pengganti benda-benda yang selama itu dimanfaatkan dari alam sekitar seperti kayu dan bebatuan. Kemudian penemuan ini dikembangkan sesuai dengan berkembangnya zaman dan kebutuhan manusia yang semakin meningkat terhadap benda yang lebih kuat dan kokoh. Kemudian timbullah pemikiran untuk membuat benda yang dinamakan baja sebagai hasil pengembangan dari pembuatan besi.

Baja dapat dibuat melalui pengecoran, pencanaian atau penempaan. Proses pembuatan baja sendiri diperkenalkan Sir Henry Bessemer dari Inggris sekira tahun 1800, sedang William Kelly dari Amerika Serikat pada waktu yang bersamaan berhasil membuat besi mampu tempa (malleable iron). Hal ini menyebabkan persengketaan mengenai masalah hak paten. Akan tetapi dalam sidang-sidang pengadilan terbukti, William Kelly lebih dahulu mendapatkan hak paten.

Seperti telah dijelaskan di atas, baja masih dibagi-bagi lagi berdasarkan kadar karbon yang dikandung dan juga berdasarkan paduan yang dikandung. Di bawah ini adalah pengklasifikasian dari baja:

A. Baja karbon

1. Baja karbon rendah ( <0,3% C)

2. Baja karbon sedang (0,3% < C <0,7%)

3. Baja karbon tinggi (0,7% < C <1,4%)

B. Baja paduan

1. Baja paduan rendah (jumlah unsur paduan khusus <8,0%)

2. Baja paduan tinggi (jumlah unsur paduan khusus >8,0%)

Baja karbon rendah yang sering kita lihat pemakaiannya dalam kehidupan sehari-hari adalah seperti kawat, sekrup, ulir dan baut. Baja karbon sering digunakan untuk rel kereta api, as, roda gigi, dan suku cadang yang berkekuatan tinggi, atau dengan kekerasan sedang sampai tinggi. Baja karbon tinggi digunakan untuk perkakas potong seperti pisau, gergaji, gunting dan bagian-bagian yang harus tahan gesekan.

Sedangkan baja paduan meliputi hampir 15% dari seluruh produksi baja dan mempunyai kegunaan khusus, karena sifatnya yang unggul dibandingkan dengan baja karbon. Keunggulan dari baja paduan ini antara lain adalah tahan terhadap korosi dan keausan, tahan terhadap perubahan suhu, dan kemungkinan retak atau distorsi kecil.

Berdasarkan unsur paduannya, klasifikasi baja mengikuti aturan yang telah ditetapkan dalam SAE Society of Automotive Engineers dan AISI (American Iron and Steel Institute), misalnya SAE-AISI 1320 – 1340, artinya adalah baja paduan dengan unsur Mangan (Mn) sekira 1,5%-2,0%.

Tapi tak ada gading yang tak retak. Masih banyak kekurangan yang ditemui pada baja, baik dari faktor kekuatan maupun kekerasannya, seperti masih adanya retakan, mudah terkena korosi atau ditemukan perubahan sifat fisis pada temperatur tinggi. Oleh karena itu sekarang telah banyak ahli yang berusaha untuk meningkatkan kualitas baja, sehingga dapat lebih baik lagi dalam penggunaannya.

Nah, dengan mengetahui sedikit tentang baja ini, kita dapat mengerti dan memahami asal muasal dari baja dan sadar akan begitu pentingnya baja. Sehingga kita dapat memanfaatkan dan menggunakan baja ini sebaik mungkin dalam kehidupan kita.***

Miduk Aritonang, Mahasiswa Teknik Mesin ITB.kamis, 16 Sept 2004

Baja Lembaran Dingin

Penggunaan Umum

Terminologi penggunaan/pemakaian umum merujuk pada satu jenis aplikasi yang memadai untuk digunakan pada berbagai jenis pemakaian akhir. Pengguna akhir yang tidak mengetahui secara tepat kebutuhannya, sebaiknya mempertimbangkan untuk menggunakan baja dengan kualitas ini agar terhindar dari kesalahan pemesanan akibat memberikan spesifikasi yang tidak tepat. Baja putih untuk penggunaan umum memiliki kisaran aplikasi yang luas, meliputi antara lain suku cadang kendaraan bermotor, furnitur, pipa, tabung, drum, komponen elektronik, atap dan lantai bangunan, serta berbagai pemakaian yang memerlukan pemotongan, bending, pembentukan, pengelasan, ataupun proses fabrikasi yang umum lainnya.

Spesifikasi yang diproduksi oleh Krakatau Steel untuk jenis baja ini terutama adalah standar JIS G 3141. Kuat Tarik: TS > 270 N/mm2.

Otomotif

Lembaran baja putih untuk aplikasi kendaraan bermotor dirancang dan diproduksi secara khusus untuk dapat memenuhi kebutuhan akan kualitas permukaan, dimensi, dan sifat-sifat mekanis yang tinggi. Sebagian besar suku cadang kendaraan bermotor umumnya memerlukan ukuran dan dimensi yang presisi, bentuk (shape) dan kerataan (flatness) yang bagus, weldability yang baik, kondisi permukaan yang sempurna, dan kemampuan press-formability dan drawability yang tinggi pula.

Untuk memenuhi kebutuhan industri otomotif, spesifikasi yang tersedia masih mengacu pada standar  JIS G 3141. Selain itu juga tersedia spesifikasi pada standar ekuivalennya, seperti standar DIN EN 1623, EN 10130 atau SAE.

Galvanized Sheet

Galvanized sheet dan juga lembaran baja putih berlapis zinc-alloyed lainnya biasanya merupakan penggunaan terbanyak dan paling sering dari baja lembaran dingin. Meskipun diklasifikasikan sebagai baja kualitas komersial, namun baja jenis ini memerlukan kondisi permukaan yang bagus dan formability yang rendah. Krakatau Steel dapat memasok baja ini dalam kondisi ‘as rolled’ (full-hard) ataupun ‘soft quality’ (setelah mengalami proses annealing), tergantung pada permintaan dari industri galvanis yang memesannya.

Spesifikasi yang diproduksi oleh Krakatau Steel terutama adalah standar JIS G 3141. Kuat Tarik: TS > 270 N/mm2.

Pipa & Tabung

Penggunaan pipa dan tabung baja kecil bervariasi dari industri furnitur hingga fabrikasi rangka struktural, bahkan juga digunakan dalam industri pembuatan sepeda motor. Baja untuk aplikasi ini memiliki formability yang sedang dan weldability yang bagus untuk dapat memperoleh proses fabrikasi pipa dan tabung yang baik.

Porcelain Enamelware

Baja untuk keperluan aplikasi proses enameling harus memiliki sifat-sifat enamelability dan formability yang bagus. Untuk dapat memenuhi kebutuhan produk-produk tersebut, Krakatau Steel saat ini telah mampu menghasilkan produk baja dengan spesifikasi JIS G 3133 SPP yang memiliki sifat enamelability yang sangat bagus (dan terjamin). Standar-standar lain  seperti JIS G 3141 SPCC dapat pula dipergunakan, namun sifat enamelability-nya tidak dijamin.

Untuk dapat terus meningkatkan sifat-sifat formability dan enamelability produk-produknya, Krakatau Steel melakukan pengembangan secara berkesinambungan dengan jalan melakukan kontrol yang intensif pada komposisi kimia, khususnya karbon, nitrogen, dan titanium, dengan menggunakan fasilitas vacuum degassing pada proses pembuatan baja.

Baja putih dalam kategori ini banyak digunakan untuk aplikasi-aplikasi khusus seperti peralatan dapur (misal: oven gas dan mesin cuci piring), alat-alat memasak (misal: mangkuk dan panci); bagian-bagian dari piranti kedokteran dan kimia, eksterior bangunan, dan lain-lain.

Kuat Tarik: TS > 270 N/mm2. Spesifikasi yang tersedia adalah JIS G 3141 SPCC,  JIS G 3133 SPP.

Tin Mill Black Plate

Sebenarnya tin mill black plate (TMBP) adalah sebuah terminologi lama untuk menyebut baja lembaran dingin yang khusus diproduksi untuk industri pelat-timah yang memiliki ketebalan lebih tipis (0,20 – 0,25 mm) dan memerlukan kualitas permukaan yang sangat bagus serta sifat-sifat mekanis yang seragam. Pelat timah banyak digunakan untuk kaleng makanan dan minuman, kaleng cat, dan chemical containers yang memerlukan ketahanan yang tinggi terhadap korosi, weldability dan workability yang tinggi, dan kekuatan yang cukup untuk menampung isi dari kaleng tersebut.

Spesifikasi yang tersedia adalah JIS G 3303 SPB-MR dengan temper grade T 2.5, T3 dan T4.

Baja Lembaran Panas

Konstruksi Umum & Las

Saat ini Krakatau Steel telah mampu menghasilkan baja lembaran panas untuk memenuhi kebutuhan pembuatan struktur rangka baja secara umum (general structure application), dari kualitas komersial umum hingga yang berkualitas tinggi (dengan jaminan kemampuan weldability dan toughness). Penggunaan atas produk jenis ini sangatlah luas, misalnya struktur baja, jembatan, kapal, otomotif, tiang pancang, komponen alat berat dan fabrikasi yang lain. Sebagian dari aplikasi-aplikasi tersebut memerlukan proses kontrol termomekanis dan proses desulfurisasi. Dalam hal memenuhi kebutuhan proses tersebut Krakatau Steel telah memiliki peralatannya, yaitu ladle furnace.

Spesifikasi yang paling populer untuk general and welded structures adalah JIS G 3101 (SS400). Juga tersedia spesifikasi yang setara lainnya, seperti standar ASTM A 570 atau SAE.

Pipa & Tabung

Baja jenis ini memiliki weldability dan drawability yang sangat baik, sehingga cocok digunakan untuk pembuatan pipa. Produk ini banyak digunakan untuk pipa struktural ukuran kecil dan sedang, pipa kanal, pipa umum, pipa spesial, dan machine-structural carbon steel pipes.

Spesifikasi baja jenis ini yang paling populer adalah JIS G 3132 (SPHT 1, SPHT 2, SPHT 3, SPHT 4). Selain itu juga tersedia dalam standar yang lain, seperti SAE J 403 1006, 1008, 1010, dan 1020, ASTM  A 252 Grade 1, 2, dan 3, MPW-1, dan MPW-38.

Komponen & Rangka Otomotif

Krakatau Steel telah mampu memproduksi baja lembaran panas dalam bentuk coil dan pelat yang khusus ditujukan untuk industri otomotif. Baja jenis ini memerlukan tingkat weldability dan drawability yang baik dan memiliki kualitas permukaan yang lebih baik daripada baja lembaran pada umumnya. Lembaran baja untuk otomotif ini banyak digunakan untuk rangka kendaraan bermotor (chassis dan cross-members), wheel discs and rims, rear axles, tangki bahan bakar, filter oli, dan lain-lain.

Kelompok baja untuk otomotif ini dapat pula digunakan untuk aplikasi general drawing yang dapat digunakan di luar industri otomotif, namun memiliki kesamaan dalam hal kebutuhan spesifikasi, khususnya dalam hal weldability dan drawability.

Jalur Pipa untuk Minyak & Gas

Jenis baja yang digunakan untuk jalur pipa minyak dan gas harus memiliki kekuatan yang tinggi dan ketahanan yang tinggi pada kondisi suhu yang rendah maupun normal. Beberapa aplikasi untuk baja jenis ini memerlukan ketahanan atas  perambatan retak yang disebabkan oleh hidrogen dan memiliki weldability yang baik. Dalam kelompok ini termasuk antara lain API 5L X42, X56, X60, X65, X70 (untuk kondisi non-sour gas) dan API 5L-60 (untuk kondisi sour gas). Baja jenis ini umumnya digunakan untuk jalur pipa untuk pengangkutan minyak mentah atau LNG.

Casing & Tubing Pipa Sumur Minyak

Baja jenis ini umum digunakan untuk pengeboran di daerah yang sangat dingin, seperti misalnya untuk casing dan tubing untuk pipa sumur minyak bumi. Krakatau Steel telah selesai mengembangkan baja tipe ini yang memiliki spesifikasi API5CT H40 dan API5CT J55. Sementara itu produk baja dengan spesifikasi API5CT K55 masih dalam taraf pengembangan.

Tabung Gas

Jenis baja untuk tabung gas ini diklasifikasikan sebagai baja berkekuatan tinggi dan memiliki formability dan weldability yang bagus. Baja ini banyak dipergunakan untuk tabung elpiji (LPG), tabung pemadam kebakaran, tabung acetylene, dan tangki-tangki gas bertekanan tinggi lainnya.

Baja Tahan Korosi Cuaca

Baja jenis ini dikategorikan sebagai baja dengan alloy rendah dan berkekuatan tinggi, yang memiliki sifat tahan terhadap korosi cuaca. Baja ini memiliki kandungan alloy khusus P, Cu, dan C.

Baja tahan korosi cuaca ini banyak digunakan dalam pembuatan container dan kendaraan bermotor khusus yang diperkaya sehingga memiliki sifat tahan terhadap korosi cuaca. Material ini juga umum digunakan untuk single poles (menara transmisi tenaga listrik bertiang tunggal), tiang kabel telepon, dan konstruksi jembatan.

Sesuai dengan kemampuan pabrik yang dimiliki Krakatau Steel, batasan ukuran ketebalan produk baja ini adalah hingga maksimum 22 mm. Ketebalan produk yang biasanya digunakan untuk container adalah antara 1,2 hingga 1,6 mm.

Rerolling

Terminologi ‘aplikasi rerolling’ digunakan untuk menyebut suatu jenis produk baja lembaran panas yang akan dirol kembali di Pabrik Pengerolan Dingin dengan maksud untuk menghasilkan produk baja lembaran dingin. Aplikasi ini telah umum diperdagangkan dalam pasar baja sebagai komoditas umum maupun sebagai produk baja lembaran panas yang langsung digunakan secara konvensional. Pengguna akhir aplikasi ini umumnya produsen baja yang telah memiliki fasilitas pabrik pengerolan dingin, seperti produsen baja lembaran dingin, industri baja lembaran galvanized, industri baja lapis timah, atau produsen baja lembaran dingin berlapis lainnya.

Baja lembaran panas jenis ini dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan penggunaan akhir sebagai baja lembaran dingin. Dan atas pertimbangan inilah pembeli harus secara jelas menyatakan aplikasi dari baja lembaran tipe ini, misalnya untuk otomotif, pipa, atau penggunaan umum.

Konstruksi Kapal

Baja jenis ini banyak digunakan untuk konstruksi kapal. Spesifikasi yang digunakan untuk aplikasi ini adalah LR Grade A, GL Grade A & B, dan KI Grade A & B.

Seperti halnya dengan lembaran baja yang digunakan untuk konstruksi umum, ukuran lembaran baja untuk konstruksi kapal yang diproduksi oleh Krakatau Steel adalah:

  • Ketebalan : maksimum 25 mm

  • Lebar : maksimum 2000 mm

Boiler & Pressurized Container

Baja jenis ini umumnya digunakan pada pembangkit listrik, pabrik kimia, pabrik pemrosesan produk pertanian, dan pabrik pemrosesan makanan lainnya. Material ini digunakan untuk boiler dan tangki pemanas, ball tanks, tangki LPG, tangki minyak mentah, liquefied petroleum tanks, refined petroleum tanks dan boiler pada pembangkit listrik tenaga uap.

Untuk kebutuhan khusus ini, pelat baja yang digunakan harus mampu menangani temperatur tinggi dan tekanan yang tinggi pula. Dan untuk memenuhi keperluan tersebut, baja dirancang khusus dengan micro-alloy yang khusus dan dirol dengan pengendalian proses pengerolan secara thermomechanical.

About these ads

Entry filed under: Uncategorized. Tags: .

T E N S E S penelitian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Categories

Recent Posts


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: