PENGGUNAAN PROBIOTIK PADA UDANG WINDU

June 30, 2009 at 11:21 pm 3 comments

Sejak tahun 1970-an akualultur sebagai upaya manusia untuk memenuhi kebutuhan sumber pangan mulai berkembang dan mengalami peningkatan pada tahun 1980-an, hal ini disebabkan semakin terbatasnya ketersediaan ikan dan produk tangkapan dari alam. Data FAO (1997), menyebutkan bahwa produksi udang, ikan, moluska serta tumbuhan air totalnya mencapai 120,7 juta ton yakni untuk tahun 1995, artinya kegiatan budi daya baru menyumbang sekitar 21%. Indonesia sebagai salah satu negara yang sebagian besar dikelilingi oleh lautan tentunya selalu berusaha dalam meningkatkan produksi budi daya baik melalui cara intensifikasi maupun ekstensifikasi.

Tabel 1.   Kontribusi subsektor perikanan berdasarkan harga konstan tahun 1993 (Rp  Miliar), 1997-2003.

Sektor/subsektor 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 % per tahun
1. Pertanian

(%)

64559.5

(14.87)

64443.5

(14.85)

64985.2

(14.97)

66208.9

(15.25)

66858.2

(15.4)

68018.3

(15.67)

70375

(15.83)

1.05

(1.05)

a.tanaman pangan

(%)

32752.8

(7.55)

32420.1

(7.47)

34012.4

(7.84)

34533.8

(7.89)

34260.2

(7.89)

34442.1

(7.93)

35070.08

(7.83)

1.03

(1.03)

b. perkebunan

(%)

10483

(2.41)

11107.8

(2.56)

10702

(2.47)

10722

(2.47)

10979.5

(2.53)

11327.9

(2.61)

12417.23

(2.79)

1.61

(1.61)

c. peternakan

(%)

7483.1

(1.72)

7002.8

(1.61)

6836.9

(1.57)

7061.3

(1.63)

7312.7

(1.68)

7537

(1.74)

7745.22

(1.74)

0.22

(0.22)

d. kehutanan

(%)

6960.6

(1.6)

7032.8

(1.62)

6288.1

(1.45)

6388.9

(1.47)

6522.5

(1.5)

6651.3

(1.53)

6658.86

(1.50)

-0.78

(-0.78)

e. perikanan

(%)

6880

(1.58)

6886

(1.58)

7145.8

(1.56)

7502.9

(1.73)

7783.3

(1.79)

8060

(1.86)

8482.97

(1.91)

3.23

(3.23)

2. Lain-lain

(%)

369536

(85.13)

210275.2

(76.54)

314367.3

(82.87)

331808

(83.37)

344832.8

(83.76)

358702.2

(84.16)

374079

(84.16)

3.98

(-0.08)

TOTAL 434095.5 274718.7 379352.5 398016.9 411691 426740.5 444454 2.68
  • Sumber Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya 2003.

Langkah ekstensifikasi pada kenyataanya lebih sulit dilakukan karena adanya persaingan atas penggunaan lahan dengan sektor lain terutama untuk wilayah Jawa, Bali dan Sumatra sehingga perlu diambil upaya lain yakni intensifikasi dalam meningkatkan produksi perikanan. Namun upaya intensifikasi juga mengalami kendala yaitu kualitas lingkungan. Kegiatan budi daya di Indonesia pernah mengalami kendala yang serius antara lain tahun 1980 terjadi wabah Aeromonas hidrophila yang menyerang ikan. Wabah penyakit yang sebabkan White Spot Syndrome Virus (WSSV) juga melanda tambak budi daya udang windu yang terjadi tahun 1995 di Jawa, Sumatra dan Sulawesi, selain itu tahun 2002 hingga 2004 Koi Herves Virus (KHV) menyerang ikan mas (Sunarto, 2005). Data di atas menunjukan ancaman wabah penyakit yang menyerang budi daya perikanan di Indonesia sehingga para pembudi daya perairan mengalami kerugian materi yang tidak sedikit.

Budi daya udang windu (Penaeus monodos) di pantura Jawa merupakan sumber mata pencaharian di daerah karawang dan Indramayu yang dilakukan secara akuakultur dan menimbulkan dampak adanya timbunan bahan organik dari kegiatan pemberian pakan yang lama-kelamaan mengendap di dasar tambak namun tidak dibarengi dengan system pengelolaan air yang baik sehingga kualitas lingkunganya mengalami penurunan dan udang tidak dapat berkembang dengan baik. Atmomarsono et al., (1996) menambahkan bahwa kematian masal udang windu antara lain  disebabkan oleh protozoa (Zoothamniim, Epystillis, Vorticella), jamur (Lagenidium, Fusarium), bakteri (Vibrio harveyi, V. alginoliticus), dan virus (Monodon Baculo Virus) terutama yang ditemukan di Sulawesi Selatan, Bali dan Jawa.

Wabah penyakit yang menyerang budidaya udang windu yakni White Spot Syndrome Virus (WSSV) yang menimbulkan kematian masal baru-baru ini sehingga produksi  udang windu mengalami penurunan yang disebabkan oleh adanya kualitas lingkungan tambak yang menurun. Serangan WSSV pada udang dapat diindikasikan apabila dijumpai 1-2 ekor udang mulai berenang-renang di permukaan air atau telah menempel pada dinding pematang, bagian karapaknya terdapat bintik-bintik putih seperti panu. Alifuddin et al., (2004) menyatakan bahwa jaringan target yang diinfeksi WSSV terrdiri atas jaringan limfoid, saluran pencernaan, insang, dan epidermis kulit. Bintik putih yang nampak merupakan penyimpangan metabolisme kalsium yang mengumpul pada lapisan kutikula udang. Tahap awal bercak berbentuk bulat dan berkembang menjadi bercak bentuk bunga, tahap selanjutnya terjadi melanisasi pada pusat bercak yang menonjol keluar bentuk bercak bulat yang makin lama makin menjelas.

Penularan serangan WSSV pada udang windu di tambak dapat terjadi secara dua jalur yaitu pertama melalui jalur vertikal yakni yang berasal dari indukan yang telah terinfeksi sehingga mencemari benur (larva udang) sejak di panti benih, biasanya udang akan mengalami kematian setelah 15-13 hari penebaran di tambak. Jalur kedua yaitu jalur horizontal yang berasal dari rembesan air pada petak tambakyang telah terkontaminasi WSSV atau melalui hewan carrier seperti jembret, kepiting dan ikan. Virus White Spot bersifat sangat virulen dan penularannya dapat terjadi pada dosis yang sangat rendah yaitu 0,02 ng/ml.

Parameter kualitas air dalam budidaya udang secara umum yang digunakan antara lain:

  • Kandungan nitrit (NO2), nitrat (NO3) dan amonia (NH3)

Nitrit di perairan berasal dari dekomposisi nitrogen yang berasal dari NH4 oleh adanya aktivitas bakteri Nitrosomonas sp. Selanjutnya nitrit diubah menjadi nitrat (NO3) oleh aktivitas bakteri Nitrobacter sp. (Gambar 1). Proses ini akan berjalan optimal apabila jumlah oksigen di perairan tambak mencukupi, kapasitas buffer baik, pH netral , dan suhu rendah. Konsentrasi  nitrit yang diperbolehkan di dalam perairan tambak harus lebih kecil dari 0,01 mg/L (Puryaningsih, 2003). Menurut Boyd (1990), batas aman nitrit pada pemeliharaan post larva udang windu adalah 4,5 mg/L. Menurut Tsai & Chen (2002), menyatakan bahwa kandungan nitrat di tambak dapat mencapai 4,52 mg/L sedangkan konsentrasi yang masih dapat diterima dalam kegiatan budidaya perikanan adalah kurang dari 20 mg/L.

Teknik budidaya udang yang ramah lingkungan dapat dilakukan dengan menandon air buangan ketika panen yakni antara lain dapat digunakan tiram, bandeng maupun rumput laut sebagai biofillter sehingga air buangan tersebut tidak mencemari perairan sekitar tambak, proses di atas bertujuan agar air buangan tersebut mengalami oksidasi terlebih dahulu. Kandungan amonia di tambak berasal dari sisa pakan, bahan organik lainnya dan hasil ekskresi dari udang, ikan dan krustacea lain yang berada di dalam lingkungan tambak tersebut. Blooming fitoplankton yang terjadi di tambak akan meningkatkan kandungan oksigen.

Konsentrasi amonia yang tinggi di tambak udang pada pola intensif juga bisa terjadi akibat input pakan yang berlebihan. Hal ini seperti yang dilaporkan oleh Smith et al., (2002), penelitian udang windu menggunakan bak-bak fiberglass yang ukuran awal rata-rata 5,6 g dengan padat tebar 25 ekor/m2 maka konsentrasi amonia yang diperoleh selama dua bulan penelian pada kisaran 0,01-5 mg/L. Menurut Choo& Tanaka (2000), parameter kualitas air yang muncul sebagai polutan dan disebabkan tingginya kandungan amonia pada saat panen udang pola intensif di tambak konsentrasinya mencapai 8,4 mg/L. Standar kualitas air menurut Global Aquaculture Alliance pada air buangan tambak intensif ketika panen kandungan amonia-nitrogen seharusnya❤ mg/L (Boyd, 2003).

  • Alkalinitas, salinitas, dan pH air

Budidaya udang windu dilakukan di laut menggunakan tambak-tambak yang sangat dipengaruhi oleh pasang surut air. Menurut Gunarto et al., (2003), pasang surut air memiliki nilai alkalinitas tinggi yaitu 90 mg/L. Effendi (2003), menambahkan alkalinitas merupakan gambaran kapasitas air untuk menetralisir asam atau kapasitas penyangga terhadap perubahan pH. Air laut memiliki sumber kation utama yaitu natrium (Na) dan magnesium (Mg) sedangkan sumber anionnya adalah chlorida (Cl), namun di air tawar sumber utama kation adalah kalsium (Ca) dan magnesium (Mg) sedangkan sumber anionnya yaitu bikarbonat dan karbonat. Air hujan yang banyak masuk ke petak tambak menyebabkan terjadinya pengenceran alkalinitas sehingga menurunkan nilai salinitas maupun alkalinitas air dan juga menurunkan pH air (asam).Menurut Effendi (2003), proses fotosintesis alga membutuhkan gas CO2 yang tergolong gas yang bersifat asam. pH air yang asam juga dapat disebabkan oleh terbentuknya ion hidroksida akibat proses hidrolisis bikarbonat dan karbonat.

Perairan di Sulawesi Selatan kaya akan hutan mangrove dan memiliki salinitas yang tinggi yaitu berkisar antara 33-45 ppt yakni terjadi pada bulan July dan Oktober sehingga baik untuk budidaya udang. Udang windu (Penaeus monodos) merupakan organisme yang bersifat omnivora (pemakan segala) dan memiliki toleran terhadap salinitas air yang luas (eurihalin) yaitu berkisar 5-35 ppt, namun udang windu dapat tumbuh optimum pada kisaran salinitas 15-25 ppt (Chanratchakool et al., 1995; Tsai et al., 2002).

  • Kandungan Bahan Organik Total (BOT)

Bahan organik yang berasal dari sisa pakan, feses, dan fitoplankton yang telah mati merupakan sumber substrat untuk pertumbuhan mikroorganisme yang selanjutnya dapat mengubah bahan organik tersebut menjadi CO2 dan air, nitrifikasi amonia menjadi nitrat dan proses denitrifikasi nitrat menjadi gas nitrogen (Boyd, 1999). Fluktuasi BOT sangat dipengaruhi oleh lamanya pemeliharaan udang, semakin lama waktu pemeliharaan udang maka pakan yang diberikan juga tidak sedikit sehingga nilai BOT akan tinggi yaitu di sedimen.

Nilai BOT yang tinggi akan meningkatkan populasi Vibrio sp. yang menguraikan sampah organik tersebut. Bakteri SRB merupakan bakteri anaerob yang hanya mampu menguraikan asam lemak rantai pendek dan alkohol sederhana yang diproduksi oleh bakteri fermentasi sebagai sumber karbon organik. Selanjutnya hasil fermentasi ditransportasi menuju zona reduksi sulfat dan bakteri menggunakan sulfat sebagai oksidan untuk mengoksidasi hasil fermentasi menjadi CO2 dan selanjutnya melepaskan asam sulfida (H2S) sebagai hasil akhirnya (Boyd, 1995; Bauman, 2004). Asam sulfida dapat menyebabkan warna hitam pada lumpur yang tidak teroksidasi, sifatnya racun bagi organisme akuatik karena mampu menyumbat insang (Devaraja et al., 2002; Munn, 2004). Hal di atas dapat diatasi dengan tambak tandon.

Penggunaan desinfektan dan antibiotik biasa diambil sebagai langkah pengobatan atas serangan wabah penyakit walaupun tingkat keberhasilannya relatif kecil (Subasinghe, 1977 dalam Irianto, 2003). Karakteristik desinfektan adalah sifatnya yang tidak spesifik sehingga terkadang mematikan organisme bukan sasaran yakni biota lain, sedangkan penerapan antibiotik pada dosis rendah dalam kurun waktu yang panjang telah menciptakan resisten patogen terhadap antibiotik tersebut. Karakteristik antibiotik adalah apesifik untuk pengendalian serangan bakteri saja sehingga penggunaan di lapangan perlu dipastikan terlebih dahulu mikroorganisme penyebab wabah penyakit tersebut. Aplikasi desinfektan dan antibiotik pada dosis yang tidak tepat dapat menggangu keseimbangan ekosistem tambak sehingga kandungan yang tinggi dapat dijadikan alasan ditolaknya produk Indonesia untuk tujuan ekspor ke negara lain seperti Jepang dan Amerika Serikat. Murdjani (2004), menambahkan bahwa di era globalisasi pemasaran produk ke pasar internasional harus memenuhi beberapa kriteria,  antara lain tidak mengandung residu antibiotik, pestisida, serta bahan kimia lain. Hal tersebut merupakan sinyal bagi Negara Indonesia untuk secara bertahap meninggalkan penggunaan antibiotik menuju system pengendalian penyakit yang lebih ramah lingkungan.

Nilai impor udang di pasar internasional cenderung mengalami penurunan, hal ini terutama disebabkan oleh melemahnya harga rata-rata udang namun permintaan akan udang justru meningkat. Di samping itu, akhir-akhir ini banyak sekali muncul berbagai hambatan perdagangan yang bernuansa tarif seperti isu dumping dan hambatan-hambatan non-tarif seperti Bioterrorism Act, Traceability, Zero Tolerance terhadap residu antibiotik dan isu lingkungan. Komisi Eropa mengeluarkan peraturan baru terkait hambatan non-tarif yang mengharuskan semua bahan pangan impor termasuk udang dikenakan uji kandungan residu antibiotik di setiap pelabuhan masuk yang berlaku sejak September 2001. Di samping itu dikenakan pula pengawasan mutu yang ketat melalui sistem RAS (Rapid Alert System). Bahkan Uni Eropa memberlakukan ketentuan zero tolerant terhadap residu antibiotik tertentu pada udang terutama khorampenikol, nitrofuran dan furazolidon.

Austin & Austin (1999), menambahkan bahwa strategi dalam pengendalian penyakit pada budidaya perikanan dapat dilakukan melalui kontrol biologis dengan pertimbangan dapat memberikan hasil yang lebih baik dan ramah lingkungan, salah satu aplikasinya adalah dengan probiotik. Gram et al., (1999), menambahkan arti probiotik yaitu sebagai bentuk pakan tambahan berupa sel mikroba hidup yang sifatnya menguntungkan hewan inang dengan menjaga keseimbangan kondisi mikrobiologisnya. Menurut Verschuere et al., (2000) probiotik adalah penambahan mikroba hidup yang memiliki pengaruh yang sifatnya menguntungkan bagi inang melalui modifikasi bentuk asosiasi dengan inang atau komunitas mikroba lingkungan hidupnya. Fuller (1987), mendefinisikan probiotik sebagai produk yang tersusun oleh biakan mikroba atau pakan alami mikroskopis yang bersifat menguntungkan dan memberikan dampak bagi keseimbangan mikroba intestin hewan inang. Agen biologis dikatakan probiotik apabila memenuhi karakter sebagai berikut:

  1. bersifat menguntungkan inang.
  2. mampu hidup walaupun tidak tumbuh pada intestinum inang.
  3. dapat disiapkan sebagai produk sel hidup dalam skala besar (industri).
  4. mampu menjaga stabilitas dan sintasanya dalam waktu yang lama
  5. baik dalam penyimpanan maupun di lapangan.

Populasi Vibrio spp. di air maupun di sedimen tambak harus dikontrol terutama pada awal pemeliharaan karena dapat menentukan kesehatan udang untuk keberlanjutan dalam proses budidaya. Fluktuasi total populasi Vibrio sp. di air tambak dipengaruhi oleh populasi udang yang masih hidup dan jumlah pakan yang diberikan. Pakan yang mengandung probiotik yang ditabur di tambak udang windu akan menekan populasi Vibrio sp. karena bakteri Basillus spp. dalam pakan mampu berkompetensi dengan Vibrio sp. dalam menguraikan limbah organik (sisa pakan, kotoran udang dan sisa organisme yang mati) yang terakumulasi di dasar tambak (sedimen) sehingga memperbaiki kualitas air. Muliani et al., (2000) , kandungan bakteri Vibrio harveyi di air pada kepadatan 103 cfu/mL sudah menyebabkan sakit pada udang windu yang dipelihara, dengan demikian titik awal kandungan populasi Vibrio sp. di air tambak tidak boleh melebihi 103 cfu/mL karena hal tersebut kemungkinan sangat tinggi dalam mempengaruhi sintasan udang yang dibudidayakan di tambak.

Penggunaan probiotik telah banyak digunakan di bidang akuakultur, bakteri yang digunakan harus mampu hidup pada suhu lingkungan 40°C. Moriarty (1998), melaporkan bahwa populasi bakteri Vibrio harveyi pada sedimen tambak telah berhasil ditekan dengan menggunakan bakteri Basillus spp. Pengaruh probiotik terhadap udang tidak secara langsung, tetapi melalui kemampuan Bacillus spp. yang mampu mendekomposisi bahan organik sehingga mampu memperbaiki kualitas air tambak. Menurut Hirota et al., (1995) dalam Maeda (1999), keberadaan B. subtillis dalam lapisan sedimen yang sifatnya anaerob dapat mengakibatkan konsentrasi sulfida menurun sehingga redoks potensial (Eh) menjadi meningkat yang mengindikasikan peningkatan kualitas kondisi sedimen tambak. Sedangkan Devaraja et al., (2002) mengemukakan bahwa penggunaan probiotik tidak memiliki efek yang berlawanan dengan bakteri normal pada tambak, namun akan meningkatkan populasi bakteri mineralisasi sehingga mempercepat proses dekomposisi.

Menurut Irianto (2003), tiga mekanisme kerja probiotik pada organisme akuatik, antara lain:

  1. menekan populasi mi kroba melalui kompetisi dengan memproduksi senyawa-senyawa antimikroba atau melalui kompetisi nutrisi dan tempat perlekatan di dinding intestinum inang.
  2. merubah metabolisme microbial dengan meningkatkan atau menurunkan aktivitas enzim pengurai (sellulase, protease, amylase dll).
  3. menstimulasi imunitas melalui peningkatan kadar antibodi organisme akuatik atau aktivitas makrofag.

penurunan kualitas air yaitu kandungan ammonia (>6mg/L) dan nitrit (>0,3 mg/L) yang tinggi. Tahun 2006, budi daya udang galah di Loka Riset Pemuliaan dan Teknologi Budidaya Perikanan Air Tawar (LRPTBPAT), Sukamandi juga mengalami kendala yaitu kematian massal pada induknya yakni sebasar 620 ekor dengan ukuran betina >40 gr dan jantan >60 gr.

PENGGUNAAN PROBIOTIK PADA BUDIDAYA UDANG WINDU

(Penaeus monodon) DI TAMBAK

Oleh :

Arsy Wijayanti

BIJ005026

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

UNIVERSITAS JENDRAL SOEDIRMAN

FAKULTAS BIOLOGI

PURWOKERTO

2008

PENGGUNAAN PROBIOTIK PADA UDANG WINDU

(Penaeus monodon) DI TAMBAK

.

Entry filed under: Uncategorized. Tags: , .

Mikroskop Optik Reaktor Nuklir

3 Comments Add your own

  • 1. samsil senda  |  January 6, 2010 at 7:29 am

    sangat baik membantu para penelitian untuk skripsi dll

    Reply
  • 2. umar hadiwijoyo  |  June 10, 2010 at 2:29 pm

    Mba klo bleh tw wktu mncoba probiotik kndungan pa aja? trus wktu d uji cbakan hsilnya gmn?mkacih

    Reply
  • 3. umar hadiwijoyo  |  June 10, 2010 at 2:31 pm

    mba wktu uji coba probiotik kndungannya pa aja? trus wktu d uji cobakan hsilnya gmn?

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Categories

Recent Posts


%d bloggers like this: