madrasah cinta

July 1, 2009 at 5:41 pm Leave a comment

Untuk wanita yang kelak atau sudah menjadi seorang Ibu……
Madrasah Cinta
> >
Apa yang paling dinanti seorang wanita yang baru saja menikah? Sudah  pasti jawabannya adalah kehamilan. Seberapa jauh pun jalan yang harus ditempuh, seberat apa pun langkah yang mesti diayun, seberapa lama  pun waktu yang kan dijalani, tak kenal menyerah demi mendapatkan satu kepastian dari seorang bidan; “positif”.
> >
Meski berat, tak ada yang membuatnya mampu bertahan hidup kecuali  benih dalam kandungannya. Menangis, tertawa, sedih dan bahagia tak  berbeda baginya, karena ia lebih mementingkan apa yang dirasa si  kecil di perutnya. Seringkali ia bertanya; menangiskah ia? Tertawakah  ia? Sedih atau bahagiakah ia di dalam sana? Bahkan ketika waktunya tiba, tak ada yang mampu menandingi cinta yang pernah diberikannya, ketika mati pun akan dipertaruhkannya asalkan generasi penerusnya itu  bisa terlahir ke dunia. Rasa sakit pun sirna sekejap mendengar  tangisan pertama si buah hati, tak peduli darah dan keringat yang  terus bercucuran. Detik itu, sebuah episode cinta baru saja berputar.
> >
Tak ada yang lebih membanggakan untuk diperbincangkan selain anak- anak. Tak satu pun tema yang paling menarik untuk didiskusikan  bersama rekan sekerja, teman sejawat, kerabat maupun keluarga,  kecuali anak-anak. Si kecil baru saja berucap “Ma?” segera ia  mengangkat telepon untuk mengabarkan ke semua yang ada didaftar  telepon. Saat baru pertama berdiri, ia pun berteriak histeris, antara  haru, bangga dan sedikit takut si kecil terjatuh dan luka. Hari  pertama sekolah adalah saat pertama kali matanya menyaksikan langkah  awal kesuksesannya. Meskipun disaat yang sama, pikirannya terus menerawang dan bibirnya tak lepas berdoa, berharap sang suami tak  terhenti rezekinya. Agar langkah kaki kecil itu pun tak terhenti di  tengah jalan.
> >
“Demi anak”, “Untuk anak”, menjadi alasan utama ketika ia berada di  pasar berbelanja keperluan si kecil. Saat ia berada di pesta seorang  kerabat atau keluarga dan membungkus beberapa potong makanan dalam tissue. Ia selalu mengingat anaknya dalam setiap suapan nasinya,  setiap gigitan kuenya, setiap kali hendak berbelanja baju untuknya.
> > Tak jarang, ia urung membeli baju untuknya dan berganti mengambil  baju untuk anak. Padahal, baru kemarin sore ia membeli baju si kecil. Meski pun, terkadang ia harus berhutang. Lagi-lagi atas satu alasan,  demi anak.
> >
> > Disaat pusing pikirannya mengatur keuangan yang serba terbatas,  periksalah catatannya. Di kertas kecil itu tertulis: 1. Uang sekolah anak, 2. Beli susu anak, ? nomor urut selanjutnya baru kebutuhan yang lain. Tapi jelas di situ, kebutuhan anak senantiasa menjadi  prioritasnya. Bahkan, tak ada beras di rumah pun tak mengapa, asalkan  susu si kecil tetap terbeli. Takkan dibiarkan si kecil menangis, apa  pun akan dilakukan agar senyum dan tawa riangnya tetap terdengar.
> > Ia menjadi guru yang tak pernah digaji, menjadi pembantu yang tak  pernah dibayar, menjadi pelayan yang sering terlupa dihargai, dan  menjadi babby sitter yang paling setia. Sesekali ia menjelma menjadi  puteri salju yang bernyanyi merdu menunggu suntingan sang pangeran.
> > Keesokannya ia rela menjadi kuda yang meringkik, berlari mengejar dan  menghalau musuh agar tak mengganggu. Atau ketika ia dengan lihainya menjadi seekor kelinci yang melompat-lompat mengelilingi kebun, mencari wortel untuk makan sehari-hari. Hanya tawa dan jerit lucu yang ingin didengarnya dari kisah-kisah yang tak pernah absen  didongengkannya. Kantuk dan lelah tak lagi dihiraukan, walau harus  menyamarkan suara menguapnya dengan auman harimau. Atau berpura-pura  si nenek sihir terjatuh dan mati sekadar untuk bisa memejamkan mata  barang sedetik. Namun, si kecil belum juga terpejam dan memintanya  menceritakan dongeng ke sekian. Dalam kantuknya, ia terus pun  mendongeng.
> >
> > Tak ada yang dilakukannya di setiap pagi sebelum menyiapkan sarapan  anak-anak yang akan berangkat ke kampus. Tak satu pun yang paling  ditunggu kepulangannya selain suami dan anak-anak tercinta. Serta  merta kalimat, “sudah makan belum?” tak lupa terlontar saat baru saja  memasuki rumah. Tak peduli meski si kecil yang dulu kerap ia timang dalam dekapannya itu sudah menjadi orang dewasa yang bisa membeli  makan siangnya sendiri di kampus.
> >
> > Hari ketika si anak yang telah dewasa itu mampu mengambil keputusan > terpenting dalam hidupnya, untuk menentukan jalan hidup bersama  pasangannya, siapa yang paling menangis? Siapa yang lebih dulu  menitikkan air mata? Lihatlah sudut matanya, telah menjadi samudera air mata dalam sekejap. Langkah beratnya ikhlas mengantar buah hatinya ke kursi pelaminan. ia menangis melihat anaknya tersenyum  bahagia dibalut gaun pengantin. Di saat itu, ia pun sadar buah hati yang bertahun-tahun menjadi kubangan curahan cintanya itu tak lagi hanya miliknya. Ada satu hati lagi yang tertambat, yang dalam  harapnya ia berlirih, “Masihkah kau anakku?”
> >
> > Saat senja tiba. Ketika keriput di tangan dan wajah mulai berbicara  tentang usianya. Ia pun sadar, bahwa sebentar lagi masanya kan berakhir. Hanya satu pinta yang sering terucap dari bibirnya, “bila ibu meninggal, ibu ingin anak-anak ibu yang memandikan. Ibu ingin dimandikan sambil dipangku kalian”. Tak hanya itu, imam shalat> jenazah pun ia meminta dari salah satu anaknya. “Agar tak percuma ibu mendidik kalian menjadi anak yang shalih sejak kecil,” ujarnya.
> >
> > Duh ibu, semoga saya bisa menjawab pintamu itu kelak. Bagaimana mungkin saya tak ingin memenuhi pinta itu? Sejak saya kecil ibu telah mengajarkan arti cinta sebenarnya. Ibu lah madrasah cinta saya, sekolah yang hanya punya satu mata pelajaran: cinta. Sekolah yang hanya punya satu guru: pecinta. Sekolah yang semua murid-muridnya> diberi satu nama: yang dicinta.

 

Entry filed under: Uncategorized. Tags: , , .

Reaktor Nuklir Lebih Jauh dengan HIV/AIDS dan Penanggulanggannya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Categories

Recent Posts


%d bloggers like this: