puisi cinta

July 1, 2009 at 11:32 pm Leave a comment

Samudera Kehidupan
Oleh : Dede Farhan Aulawi

Sahabat….
Tataplah gunung yang menjulang tinggi
Lihatlah samudera yang terhampar luas
Tengoklah ke jendela hati barang sesaat
Ingatlah perjalanan hidup yang telah kita lalui
Berapa kali kita pernah menangis…?
Berapa kali kita pernah tersenyum dan tertawa ?
Berapa prosentasenya ?

Ternyata prosentasenya sangatlah kecil…
Bahkan tangisan hanyalah sekedar peringatan…
Agar kita tidak lupa untuk selalu bersyukur
Tangisan adalah sebuah klimaks dari nikmatnya kehidupan
Dan justru kita harus sedih ketika susah meneteskan air mata
Betapa banyak orang yang ingin meneteskan air mata…
Tetapi tidak bisa….
Mungkin karena air matanya sudah habis …
Mungkin sensitivitas sosialnya sudah terkikis…
Atau mungkin sentuhan spiritualitasnya semakin menipis….

Tetesan air mata adalah sesuatu yang normatif…
Jika kita ingin menangis karena sesuatu hal…
Maka menangislah…
Basahi bulu matamu dengan air mata syukur yang penuh hikmah
Jangan jadikan kepahitan hidup menjadi kedukaan yang terlalu lama
Memang hal itu terasa menyakitkan dan mengecewakan….
Tapi itulah perjalanan hidup yang memang harus dilalui…
Mau…tidak mau…
Siap …tidak siap….
Tak perlu diundang …dan tak perlu diusir….
Karena terkadang ia datang dengan tiba – tiba…..
Cukuplah kau teteskan air mata…
Karena di depan sana masih banyak persoalan lain yang harus kita selesaikan

Terlalu mahal pengorbanan air mata hanya untuk satu peristiwa
Kita semua punya garis hidup…
Kita semua berjalan dalam orbit takdir setelah kita berusaha….
Jadi tidak selayaknya kalau kita harus menyesali kehidupan
Tidak pada tempatnya kalau kita mencemoohkan kegagalan orang
Kegagalan adalah cambuk pertama dalam silabus pendidikan
Agar kita sadar…dan sadar….untuk menjadi lebih baik lagi
Ini adalah kasih sayang-Nya untuk kita

Sempit lebarnya kehidupan…
Pedih tidaknya kegetiran…
Manis pahitnya pengalaman…
Dibentuk oleh…dan hanya ada dalam fikiran sendiri….
So, organize & manage our mindself
That is  the key in our life

Sahabat…
Jika ada hal yang membuatmu menangis….
Tak usah gundah dan resah…
Datanglah…, dan aku sebagai sahabatmu selalu menantimu…
Barangkali ada renungan tuk kita
Agar selalu mendekatkan diri pada-Nya
Ya…hanya pada-Nya tempat kita kembali
Dan hanya pada-Nya tempat kita memohon pertolongan
Dia lah Tuhan yang serba Maha…
Dia Maha Pengasih dan Maha Penyayang…

Dan jika kau tetap menangis….
Biarkan jemariku yang kan mengahapus air matamu
Biar kurasakan hangat air mata dari seorang sahabat yang kusayangi
Mungkin kulit jemariku kasar….
Tapi dibalik kekasarannya ada ketulusan…
Mungkin jemariku kotor…
Karena aku hanyalah seorang pekerja kasar…
Tapi dibalik kekotorannya ada setetes kebeningan kasih sayang
Jika kakimu sudah tak mampu menopang badanmu…
Biarkan kakiku menuntunmu kemana kau kan pergi…
Yang pasti…janganlah untuk pernah berputus asa …..
Dalam menyeberangi samudera kehidupan….
Aku lah si tukan sampan yang siap mengantarmu dalam berlayar

DIMENSI SPIRITUALITAS
Dimensi Spiritualis sesunguhnya sangat luat dan tidak bisa dibatasi oleh
limit istilah. Meskipun secara prinsip mengandung 3 unsur, yaitu kebutuhan
eksistensial, kebutuhan maaf, dan kebutuhan cinta, tapi bisa diperluas ke
dalam lingkup yang bersifat undefinitive.

Hal ini bisa kita simak dalam kisah Alkemi di bawah ini. Alkemi adalah
sebuah ilmu yang mampu mengubah besi menjadi emas. Dalam banyak kisah,
beberapa orang menganggapnya sebagai sebuah sihir belaka, tetapi yang lain
percaya bahwa ilmu itu benar-benar ada. Dan, siapa yang tak tergiur
untuk bisa menguasai ilmu alkemi? Hanya dengan kemampuan alkemi, ia bisa
mengubah besi menjadi emas dan tentu menjadi kaya-raya.

Alkisah, di sebuah negara di Timur ada seorang Raja yang hendak mencari
orang yang benar-benar mengerti tentang alkemi. Sudah banyak orang
datang pada Raja, tetapi ketika diuji, mereka ternyata tidak mampu
mengubah besi menjadi emas.

Suatu ketika seorang menteri berkata pada Raja bahwa di sebuah desa
terdapat seseorang yang hidup sederhana dan bersahaja. Orang-orang di
sana mengatakan bahwa ia menguasai ilmu alkemi. Segera saja Raja
mengirimkan utusan untuk memanggil orang itu. Sesampainya di istana,
Raja mengutarakan maksudnya ingin mempelajari ilmu alkemi. Raja akan
memberikan apa yang diminta oleh orang itu.

Tetapi apa jawab orang desa itu, “Tidak. Saya tidak mengetahui sedikit
pun ilmu yang Baginda maksudkan.”

Raja berkata, “Setiap orang memberitahu aku bahwa engkau mengetahui
ilmu itu.”

“Tidak, Baginda,” jawabnya bersikeras. “Baginda mendapatkan orang yang
keliru.”

Raja mulai murka dan mengancam. “Dengarkan baik-baik!” kata Raja. “Bila
kau tak mau mengajariku ilmu itu, aku akan memenjarakanmu seumur hidup.”

“Apa pun yang Baginda hendak lakukan, lakukanlah. Baginda mendapatkan
orang yang keliru”

“Baiklah. Aku memberimu waktu enam minggu untuk memikirkannya. Dan,
selama itu kau akan dipenjara. Jika pada akhir minggu ke enam kau masih
berkeras hati, aku akan memenggal kepalamu.”

Akhirnya orang itu dimasukkan ke dalam penjara. Setiap pagi Raja datang
ke penjara dan bertanya, “Apakah kau telah berubah pikiran? Maukah kau
mengajariku alkemi? Kematianmu sudah dekat, berhati-hatilah. Ajari aku
pengetahuan itu.”

Orang itu selalu menjawab, “Tidak Baginda. Carilah orang lain. Carilah
orang lain yang memiliki apa yang Baginda inginkan, saya bukanlah orang
yang Baginda cari.”

Setiap malam ada seorang pelayan yang melayani orang itu dalam penjara.

Pelayan itu berkata bahwa Raja mengirimnya untuk melayani orang itu
sebaik-baiknya. Pelayan itu menyapu lantai serta membersihkan ruangan
penjara itu. Pelayan itu juga selalu mengantarkan makanan dan minuman
untuk orang itu, memberikan simpati kepadanya, melakukan apa saja yang
diminta oleh orang itu, dan bekerja apa saja selayaknya seorang pelayan.

Pelayan itu selalu menanyakan, “Apakah anda sakit? Apakah ada sesuatu
yang dapat saya lakukan untuk anda? Apakah anda lelah? Bolehkah saya
membersihkan tempat tidur anda? Maukah anda bila saya mengipasi anda
hingga anda tertidur, udara di sini panas sekali.” Dan, segala sesuatu
yang bisa pelayan itu lakukan, maka ia lakukan saat itu juga.

Hari terus belalu. Dan, kini tinggal satu hari lagi sebelum kepala
orang itu dipenggal. Pagi hari Raja mengunjungi dan berkata, “Waktumu
tinggal sehari.

Ini kesempatan bagimu untuk menyelamatkan nyawamu sendiri.”

Tetapi orang itu tetap saja berkata, “Tidak Baginda. Yang Baginda cari
bukanlah hamba.”

Pada malam hari, sebagaimana biasa pelayan itu datang. Orang itu
memanggil pelayan itu untuk duduk dekat dirinya kemudian diletakkan
tangannya di bahu pelayan itu dan berkata, “Wahai orang yang malang.
Wahai pelayan yang malang. Engkau telah berlaku sunguh baik terhadap
diriku. Kini aku akan membisikkan di telingamu sebuah kata tentang
alkemi. Sebuah kata yang akan membuatmu mampu mengubah besi menjadi
emas.”

Pelayan itu berkata, “Aku tak tahu apa yang kau maksudkan dengan alkemi.
Saya hanya ingin melayani anda. Saya sungguh sedih bahwa besok anda akan
dihukum mati. Itu sungguh mengoyak hatiku. Saya harap saya bisa
memberikan jiwa saya untuk menyelamatkan anda. Seandainya saya bisa,
sungguh saya sangat bersyukur.”

Sang alkemi menjawab, “Lebih baik aku mati daripada memberikan ilmu
alkemi ini kepada orang yang tidak layak menerimanya. Ilmu yang baru
saja aku berikan kepadamu dalam simpati, dalam penghargaan, dan dalam
cinta, tak akan kuberikan kepada Raja yang akan mengambil nyawaku besok.
Mengapa demikian?
Karena engkau pantas menerimanya, sedangkan Raja itu tidak.”

Esok harinya, Raja memanggil sang alkemi dan memberikan peringatan
terakhir.

“Ini adalah kesempatan terakhirmu. Kau harus mengajariku ilmu alkemi,
bila tidak lehermu harus dipenggal.”

Sang alkemi menjawab, “Tidak Baginda, anda mendapatkan orang yang
keliru.”

Raja pun, “Baiklah. Aku putuskan kau untuk bebas, karena kau telah
memberikan alkemi itu padaku.”

Sang alkemi keheranan, “Kepadamu? Saya tidak memberikannya pada Baginda
Raja. Saya telah memberikannya pada seorang pelayan.”

“Tahukah kau, bahwa orang yang melayanimu setiap malam adalah aku,”
jawab sang Raja.

Renungan Editor: Banyak orang menginginkan emas dalam hidupnya dengan
mempelajari alkemi. Tetapi saat ia mencapai tujuannya, bukan emas yang
ia temukan, justru ia sendiri menjadi emas itu.

HANYA INGIN MENGINGATKAN

Kubur Setiap Hari Menyeru Manusia Sebanyak Lima (5) Kali …

1. Aku rumah yang terpencil,maka kamu akan senang dengan selalu membaca Al-Quran.
2. Aku rumah yang gelap,maka terangilah aku dengan selalu solat malam.
3. Aku rumah penuh dengan tanah dan debu,bawalah amal soleh yang menjadi hamparan.
4. Aku rumah ular berbisa,maka bawalah amalan Bismillah sebagai penawar.
5. Aku rumah pertanyaan Munkar dan Nakir,maka banyaklah bacaan
“Laa ilahaillallah, Muhammadar Rasulullah”, supaya kamu dapat jawapan kepadanya.

Lima Jenis Racun dan Lima Penawarnya …..

1. Dunia itu racun,zuhud itu ubatnya.
2. Harta itu racun,zakat itu ubatnya.
3. Perkataan yang sia-sia itu racun,zikir itu ubatnya.
4. Seluruh umur itu racun, taat itu ubatnya.
5. Seluruh tahun itu racun,Ramadhan itu ubatnya.

Ada 4 di pandang sebagai ibu “, iaitu :

1. Ibu dari segala UBAT adalah SEDIKIT MAKAN.
2. Ibu dari segala ADAB adalah SEDIKIT BERBICARA.
3. Ibu dari segala IBADAT adalah TAKUT BUAT DOSA.
4. Ibu dari segala CITA CITA adalah SABAR.


Orang Yang Tidak Melakukan Solat:


Subuh : Dijauhkan cahaya muka yang bersinar
Zuhur : Tidak diberikan berkah dalam rezekinya
Asar : Dijauhkan dari kesehatan/kekuatan
Maghrib : Tidak diberi santunan oleh anak-anaknya.
Isyak : Dijauhkan kedamaian dalam tidurnya

Aku Dimakamkan Hari Ini

Perlahan, tubuhku ditutup tanah,

perlahan, semua pergi meninggalkanku,
masih terdengar jelas langkah-langkah terakhir mereka
aku sendirian, di tempat gelap yang tak pernah terbayang,
sendiri, menunggu keputusan…

.
Istri, belahan hati, belahan jiwa pun pergi,
Anak, yang di tubuhnya darahku mengalir, tak juga tinggal,
Apalah lagi sekedar tangan kanan, kawan dekat,
rekan bisnis, atau orang-orang lain,
aku bukan siapa-siapa lagi bagi mereka.

.
Istriku menangis, sangat pedih, aku pun demikian,
Anakku menangis, tak kalah sedih, dan aku juga,
Tangan kananku menghibur mereka,
kawan dekatku berkirim bunga dan ucapan,
tetapi aku tetap sendiri, disini,
menunggu perhitungan…

.
Menyesal sudah tak mungkin,
Tobat tak lagi dianggap,
dan ma’af pun tak bakal didengar,
aku benar-benar harus sendiri…

.
Tuhanku,
(entah dari mana kekuatan itu datang,
setelah sekian lama aku tak lagi dekat dengan-Nya),
jika kau beri aku satu lagi kesempatan,
jika kau pinjamkan lagi beberapa hari milik-Mu,
beberapa hari saja…

.
Aku harus berkeliling, memohon ma’af pada mereka,
yang selama ini telah merasakan zalimku,
yang selama ini sengsara karena aku,
yang tertindas dalam kuasaku.
yang selama ini telah aku sakiti hati nya
yang selama ini telah aku bohongi

.
Aku harus kembalikan, semua harta kotor ini,
yang kukumpulkan dengan wajah gembira,
yang kukuras dari sumber yang tak jelas,
yang kumakan, bahkan yang kutelan.
Aku harus tuntaskan janji janji palsu yg sering ku umbar dulu


.
Dan Tuhan,
beri lagi aku beberapa hari milik-Mu,
untuk berbakti kepada ayah dan ibu tercinta ,
teringat kata kata kasar dan keras yg menyakitkan hati mereka ,
maafkan aku ayah dan ibu ,
mengapa tak kusadari betapa besar kasih sayang mu
beri juga aku waktu,
untuk berkumpul dengan istri dan anakku,
untuk sungguh sungguh beramal soleh ,
Aku sungguh ingin bersujud dihadap-Mu,
bersama mereka…

.
Begitu sesal diri ini
karena hari hari telah berlalu tanpa makna
penuh kesia-siaan
kesenangan yg pernah kuraih dulu, tak ada artinya
sama sekali mengapa ku sia sia saja ,
waktu hidup yg  hanya sekali itu
andai ku bisa putar ulang waktu itu…

.
Aku dimakamkan hari ini,
dan semua menjadi tak terma’afkan,
dan semua menjadi terlambat,
dan aku harus sendiri,
untuk waktu yang tak terbayangkan…

Berapa lama Kita dikubur?

Awan sedikit mendung, ketika kaki kaki kecil
Yani berlari-lari gembira di atas jalanan
Menyeberangi kawasan lampu merah Karet.

Baju merahnya yang Kebesaran melambai
Lambai di tiup angin. Tangan Kanannya memegang
Es krim sambil sesekali mengangkatnya ke mulutnya
Untuk dicicipi, Sementara tangan kirinya mencengkram
Ikatan sabuk celana ayahnya.

Yani Dan Ayahnya memasuki wilayah pemakaman umum
Karet, Berputar sejenak ke kanan & Kemudian duduk
Di atas seonggok nisan

“Hj Rajawali binti Muhammad 19-10-1905:20-01-1965”
“Nak, ini kubur nenekmu mari Kita berdo’a untuk nenekmu”
Yani melihat wajah ayahnya, lalu menirukan tangan ayahnya
Yang mengangkat ke atas Dan ikut memejamkan Mata
Seperti Ayahnya. Ia mendengarkan ayahnya berdo’a untuk
Neneknya…

“Ayah, nenek waktu meninggal umur 50 tahun ya
Yah.” Ayahnya mengangguk sembari tersenyum
Sembari memandang pusara Ibu-nya.
“Hmm, berarti nenek sudah meninggal 36 tahun ya yah…”
Kata Yani berlagak sambil matanya menerawang Dan
Jarinya berhitung. “Ya, nenekmu sudah di dalam kubur 36 tahun … ”

Yani memutar kepalanya, memandang sekeliling, banyak
Kuburan di sana. Di samping kuburan neneknya Ada
Kuburan tua berlumut “Muhammad Zaini :
19-02-1882 : 30-01-1910”

“Hmm.. Kalau yang itu sudah meninggal 91 tahun
Yang lalu ya yah” jarinya menunjuk nisan disamping
Kubur neneknya. Sekali lagi ayahnya mengangguk.
Tangannya terangkat mengelus kepala anak satu-satunya.
“Memangnya kenapa ndhuk ?” kata sang ayah menatap
Teduh Mata anaknya.
“Hmmm, ayah khan semalam bilang, bahwa kalau
Kita mati, lalu di kubur Dan Kita banyak dosanya,
Kita akan disiksa di neraka” kata Yani sambil meminta
Persetujuan ayahnya. “Iya kan yah?”
Ayahnya tersenyum, “Lalu?” “Iya .. Kalau nenek banyak
Dosanya, berarti nenek sudah disiksa 36 tahun dong yah
Di kubur? Kalau nenek banyak pahalanya, berarti sudah
36 tahun nenek senang di kubur …. Ya nggak yah?”
Mata Yani berbinar karena bisa menjelaskan kepada
Ayahnya pendapatnya.

Ayahnya tersenyum, namun sekilas tampak keningnya
Berkerut, tampaknya cemas …..
“Iya nak, kamu pintar,” kata ayahnya pendek.

Pulang dari Pemakaman, ayah Yani tampak gelisah
Di atas sajadahnya, memikirkan apa yang dikatakan
Anaknya … 36 tahun … Hingga sekarang…kalau kiamat
Datang 100 tahun lagi ….136 tahun disiksa .. Atau bahagia
Di kubur …. Lalu IA menunduk … Meneteskan air Mata …

Kalau Ia meninggal .. Lalu banyak dosanya …lalu kiamat
Masih 1000 tahun lagi berarti IA akan disiksa 1000 tahun?
Innalillaahi WA inna ilaihi rooji’un … Air matanya semakin banyak
Menetes…..Sanggupkah IA selama itu disiksa?
Iya kalau kiamat 1000 tahun ke depan ..kalau 2000 tahun lagi?
Kalau 3000 tahun lagi? Selama itu IA akan disiksa di kubur ..
Lalu setelah dikubur? Bukankah Akan lebih parah lagi? Tahankah?
Padahal melihat adegan preman dipukuli Massa ditelevisi kemarin
Ia Sudah tak tahan?

Ya Allah …IA semakin menunduk .. Tangannya
Terangkat keatas..bahunya naik Turun tak teratur….
Air matanya semakin Membanjiri jenggotnya …..
Allahumma as aluka khusnul khootimah berulang
Kali di bacanya DOA itu Hingga suaranya serak …
Dan IA berhenti sejenak Ketika Terdengar batuk Yani.

Dihampirinya Yani yang tertidur di atas dipan
Bambu… Dibetulkannya Selimutnya. Yani terus
Tertidur….tanpa tahu, Betapa sang bapak sangat
Berterima kasih padanya karena telah Menyadarkannya ..
Arti Sebuah Kehidupan… Dan apa yang akan datang di
Depannya…

Entry filed under: Uncategorized. Tags: .

kebohongan,makalah islam Pengolahan Dan Pemasaran Hasil Pisang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Categories

Recent Posts


%d bloggers like this: