Gas untuk heat treatment pada Cast Iron dan Steel Foundries

July 2, 2009 at 9:47 am Leave a comment

Teknologi ini menggunakan gas industri seperti nitrogen, hidrogen, karbondioksida (CO2), argon, helium dan methanol sebagai pengganti atau pelengkap atmosfir yang dihasilkan oleh generator gas, dalam furnace heat treatment untuk memodifikasi sifat-sifat besi coran. Hal ini memberikan manfaat yang besar dari segi keuangan untuk proses annealing, sintering, brazing, carburising, decarburising, neutral hardening, vacuum backfill, autoclave curing, heat treatment secara cryogenic dan aplikasi pemrosesan lainnya dalam cast iron dan steel foundries. Klik disini untuk keterangan dari berbagai proses tersebut. Air Products memasok atmosfir PURIFIRE® dan kontrol panel untuk proses heat treatment logam. Keterangan berikut ini menampilkan ringkasan dari keuntungan sistem gas industri Air Products dibandingkan dengan atmosfir dari generator gas: Kualitas Produk – Kemurnian gas industri dapat disesuaikan untuk memenuhi kebutuhan khusus pelanggan. Gas dengan kemurnian tinggi kami dapat meningkatkan kualitas dan konsistensi produk akhir. Fleksibilitas Proses – Dengan kontrol panel dari Air Products, jumlah dari masing-masing gas dapat dicampur dengan tepat lalu dimasukkan kedalam furnace pelanggan sesuai kebutuhan proses dan kondisi dari furnace. Komposisi atmosfir dan kecepatan alirannya dapat diatur sesuai kebutuhan produksi.

Keandalan Proses – Air Products memiliki berbagai jenis metode pasokan mulai dari cairan yang dibawa dalam truk sampai pada produksi gas on-site. Metode manapun yang Anda inginkan, kemampuan kami dalam produksi, penyimpanan, dan pengiriman menjadikan kami dapat diandalkan dalam penyediaan sistem pelindung atmosfir dengan gas industri. Pengiriman dengan truk dikoordinasikan melalui pengaturan jadwal yang seksama agar sesuai dengan kebutuhan yang sebenarnya.

Annealing Memanaskan dan mempertahankannya pada suhu tertentu diikuti dengan pendinginan yang lambat sehingga memudahkan pekerjaan yang akan dilakukan pada kondisi dingin, meningkatkan kemudahan dalam pengerjaan dengan mesin dan menghilangkan stress.

Sintering

Sebuah proses dimana bubuk logam dengan atau tanpa tekanan disatukan dengan cara dipanaskan pada suhu sedikit di bawah titik lelehnya.

Brazing

Dua buah logam digabungkan dengan menambahkan logam ketiga yang tidak sejenis, biasanya menggunakan tembaga.

Carburising

Penambahan karbon ke permukaan baja melalui pemanasan dan penahanan pada suhu tertentu dengan adanya media carbon bearing, biasanya CO dengan methane atau propane. Hal ini memungkinkan tercapainya permukaan yang tahan gesekan dan bagian dalam yang kuat.

Decarburising

Pemindahan karbon dari permukaan baja selama proses heat treatment. Biasanya digunakan untuk menghasilkan penyerapan magnet yang lebih cepat.

Neutral Hardening

Proses heat treatment pada permukaan baja untuk mempertahankan kekerasan seperti bahan awalnya. Hal ini dilakukan di dalam atmosfir yang berbeda dengan proses carburising maupun decarburizing.

Vacuum Backfill / PURIFIRE® Rapid Gas Quench (RGQ®)

Penggunaan gas inert untuk meningkatkan laju pendinginan di furnace vacuum yang berlangsung pada tahap akhir heat treatment. Air Products telah mengembangkan proses yang juga telah dipatenkan, dikenal sebagai Rapid Gas Quenching atau RGQ dengan cara memaksimalkan konduktivitas panas dari atmosfir quench yaitu menggunakan campuran argon dan helium.

Autoclave Curing

Memanaskan bahan komposit pada tekanan tertentu untuk mengkonsolidasikan struktur materialnya dengan memindahkan rongga dan secara kimia mengembalikan sifat plastisnya.

Penanganan Logam secara Cryogenic

Pendinginan yang cepat dari logam yang dikeraskan dengan menggunakan nitrogen cair untuk meningkatkan kekerasan dan kekuatannya.

Pasir besi merupakan salah satu endapan besi yang selain telah dimanfaatkan sebagai bahan campuran dalam industri semen juga mempunyai prospek untuk dikembangkan sebagai bahan baku besi baja sesuai dengan perkembangan teknologi pengolahan dan kebutuhan pasar. Pasir besi merupakan salah satu endapan besi yang selain telah dimanfaatkan sebagai bahan campuran dalam industri semen juga mempunyai prospek untuk dikembangkan sebagai bahan baku besi baja sesuai dengan perkembangan teknologi pengolahan dan kebutuhan pasar.

Sampai saat ini eksplorasi pasir besi sudah banyak dilakukan baik oleh pihak swasta maupun pemerintah, namun belum ada pedoman baku eksplorasi pasir besi yang bisa dipakai sebagai acuan teknis, terutama dalam penyusunan laporan hasil eksplorasi pasir besi. Pedoman Teknis Eksplorasi Pasir Besi dapat dipakai sebagai bahan acuan bagi pemerintah dan swasta dalam melakukan eksplorasi endapan pasir besi agar ada keseragaman dalam melakukan eksplorasi dan pelaporan.

Pedoman Teknis Eksplorasi Pasir Besi ini meliputi tata cara eksplorasi mulai dari tahap persiapan, penyelidikan lapangan, pekerjaan laboratorium, pengolahan data dan pembuatan laporan dan mengacu kepada beberapa SNI yang terkait dengan aspek sumberdaya , cadangan dan eksplorasi bahan galian.

Pasir Besi adalah endapan pasir yang mengandung partikel bijih besi (magnetit), yang terdapat di sepanjang pantai, terbentuk karena proses penghancuran oleh cuaca, air permukaan dan gelombang terhadap batuan asal yang mengandung mineral besi seperti magnetit, ilmenit, oksida besi, kemudian terakumulasi serta tercuci oleh gelombang air laut.

Gumuk Pasir atau Sand dunes adalah Longgokan pasir besi atau bukan pasir besi yang terletak searah dengan pantai dan memanjang, yang mempunyai ketinggian sampai dengan 15 meter

Konsentrat Pasir Besi adalah Crude sand yang telah mengalami benefisiasi melalui proses pemisahan magnet yang mempunyai prosentasi kemagnetan ( MD

Conto individu adalah conto pasir besi hasil pemboran yang diambil dari tiap interval kedalaman tertentu, biasanya tiap 1 atau 1,5 m.

Conto komposit adalah conto pasir besi hasil pemboran yang diambil dari satu lubang bor.

Pereduksi Conto (Increment box) adalah alat pereduksi conto di lapangan yang berupa bak terbuat dari kayu dengan ukuran lebar x panjang x tebal: 60 cm x 90 cm x 2 cm (J.I.S., 1965), untuk mendapatkan conto yang representatif.

Sumber Daya Endapan Pasir Besi Hipotetik adalah sumber daya yang dihitung dengan interval bor > 1000 m.

Sumber Daya Endapan Pasir Besi Tereka adalah sumber daya yang dihitung dengan interval bor 1000 m x 80 Sumber Daya Endapan Pasir Besi Tertunjuk adalah sumber daya yang dihitung dengan interval bor 400 m x 40

Sumber Daya Endapan Pasir Besi Terukur adalah Sumber daya yang dihitung dengan interval bor 100 m x 20

Cadangan Pasir Besi Terkira (Probable Ore Reserves) adalah Sumber daya tertunjuk yang berdasarkan studi kelayakan tambang, semua faktor yang terkait telah terpenuhi sehingga penambangan dapat dilakukan secara ekonomis.

Cadangan Pasir Besi Terbukti adalah (Proved Ore Reserves) adalah sumber daya terukur yang berdasarkan studi kelayakan tambang, semua faktor yang terkait telah terpenuhi sehingga penambangan dapat dilakukan secara ekonomis.

Analisa kimia dilakukan terhadap conto individu untuk mengetahui kandungan unsur dalam konsentrat, antara lain: Fetotal (FeO dan Fe2O3, Fe3O4) dan Titan. Analisa kimia dapat dilakukan dengan beberapa metoda, antara lain AAS, volumetrik, XRF dan ICP. Analisa fisika yang dilakukan antara lain analisa mineral butir, analisa ayak, analisa sifat magnetik dan berat jenis. Analisa mineral butir dilakukan untuk mengetahui jenis dan persen berat mineral baik untuk fraksi magnetik maupun nonmagnetik Conto yang dianalisa mineral butir berasal dari conto komposit, yang mewakili wilayah/ blok pemboran. Analisa ayak dimaksudkan untuk mengetahui ukuran butiran pasir besi yang dominan. Analisa ayak dilakukan terhadap conto pilihan berasal dari bagian-bagian blok interval dalam bentuk conto komposit berat 500 gram yang dibagi menjadi 6 fraksi, yakni :

1. butiran yang lebih besar + 2 mm atau + 10 mesh

2. butiran antara –2 + 1mm atau –10 + 18 mesh

3. butiran antara –1 + ½ mm atau –18 + 35 mesh;

4. butiran antara –1/2 + ¼ mm atau –35 + 72 mesh;

5. butiran antara –1/4 + 1/8 atau –72 + 150 mesh dan

6. butiran yang lebih kecil dari –1/8 mm.

Masing-masing fraksi jumlahnya dinyatakan dalam persen berat yang dapat digambarkan dalam bentuk diagram balok sehingga sebaran fraksi pasir besi yang dominan dapat diketahui (Gambar 7). Analisa berat jenis dimaksudkan untuk mengetahui berat jenis pasir besi. Analisa dilakukan dengan cara conto asli (crude sand) seberat 100 gram dimasukkan ke dalam air yang diketahui volumenya di dalam gelas ukur. Untuk memudahkan perhitungan ditetapkan volume 200 cc, apabila kenaikan air menjadi A cc, maka volume pasir yang dimasukkan = A – 200 cc.

Jadi berat jenis = 100 / (A-200) gram /cc.

Terdapat empat jenis cebakan bijih besi dl Indonesia yakni : Skarn/metasomatik

kontak, “placer”, laterit dan sedimen.

Cebakan bijih besi skarn terbentuk oleh proses metasomatik kontak, sebagai hasil reaksi magma berkomposisi menengah sampai ultra basa dengan batuan gamping atau bersifat karbonatan. Cebakan bijih terbentuk dengan karakteristik susunan mineral terdiri atas mineral skarn.dan mineral bijih sulfida dan oksida; jika dominan disusun oleh mineral-mineral magnetit, hematit, siderit, limonit atau goethit sebagai mineral bijih utamanya maka dapat dikategorikan cebakan bijih besi skarn. Dengan kuantitas mencapai lebih dari 15 juta ton dan kadar total 34%-70% Fe, maka cebakan ini dapat berpotensi sebagai sumber daya bijh besi untuk bahan baku industri besi baja. Cebakan bijih besi “placer” terbentuk oleh proses pelapukan, disintegrasi dan terakumulasi secara mekanik pada suatu cekungan sedimen.. Dengan kuantitas hampir mencapai 159 juta ton dan kadar 34 – 59% Fe serta 5,4 – 23,17% TiOz maka berpotensi sebagai sumber daya bijih besi, yang dapat dimanfaatkan untuk bahan baku pembuatan semen dan besi beton. Cebakan bijih besi laterit terbentuk sebagai hasil pelapukan dan dekomposisi dari batuanbeku basa atau ultrabasa mengandung unsur besi . Cebakan merupakan akumulasi endapan residu yang dibentuk melalui proses kimiawi atau mekanis dapat mencapai ketebalan signifikan untuk menjadi sumber daya berpotensi ekonomis. Di Indonesia cebakan ini diperkirakan hampir mencapai satu milyar ton. Cebakan bijih besi dari jenis sedimen berkaitan dengan proses sedimentasi yang melibatkan reaksi kimiawi. Diperkirakan sumber daya total di seluruh Indonesia mencapai lebih dari 1 juta ton. Logam besi merupakan bahan baku penting yang memasuki hampir seluruh industri didalam negeri Indonesia selama berabad-abad hingga sekarang. Pada saat ini, besi dipakai sebagai bahan dasar untuk konstruksi beton bangunan, jembatan dan juga peralatan tranportasi seperti kereta api, mobil, sepeda motor dan lain-lain. Dari uji fisika yang dilakukan, menunjukkan bahwa besi untuk keperluan teknologi industri mempunyai berat jenis sebesar 7,786 sedangkan besi yang dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari mem-punyai berat jenis sebesar 7,85 karena masih mengandung campuran unsur-unsur lain seperti: karbon, silisium, mangan, khrom, fosfor dan belerang. Bijih besi banyak ditemukan terutama di pulau-pulau : Sumatera, Jawa, Kali-mantan, Sulawesi dan Halmahera; dapat terbentuk sebagai cebakan skarn, placer, laterit dan sedimen. Lebih dari seratus lokasi dari ke-empat jenis tersebut telah ditemukan dengan kondisi geologi yang bervariasi.

Cebakan bijih besi skarn

Cebakan ini terbentuk akibat proses metasomatisma di sekitar bagian kontak terobosan magma berkomposisi menengah, basa atau ultra basa dengan batuan bersifat karbonatan dan atau batugamping.

Sifat-sifat dari cebakan ini adalah :

1. Dapat berbentuk lensa, berupa sarang (net shaped) atau lapisan-lapisan yang kompleks pada bagian kontak.

2. Berbentuk masif dengan susunan terdiri atas mineral-mineral oksida besi seperti magnetit, hematit, siderit dan goethit berasosiasi dengan mineral sulfida se-perti pirit dan kalkopirit serta ditandai oleh mineral-mineral skarn seperti garnet, piroksen, aktinolit, silimanit dan epidot.

3. Karena proses disintegrasi dan tranportasi, jenis cebakan ini sering ditemukan dalam bentuk endapan eluivial atau diluvial, yaitu berupa onggokan bongkah-bongkah batuan mengandung terutama mineral bijih magnetit atau hematit. Onggokan batuan ini biasanya terletak tidak jauh dari batuan sumber di daerah kontak.

4. Kadar bijih dari jenis cebakan ini berkisar antara 50% – 70% Fe dan dapat mengandung Ni atau Cr dalam jumlah kecil.

5. Karena sering berassosiasi de-ngan mineral sulfdida, maka terdeteksi kadar Cu atau Zn agak tinggi (> 1%).

6. Kadar belerang agak tinggi kadang-kadang dapat mendekati 1%.

7. Kadar Ti02 biasanya dibawah 0,5%.

Jenis cebakan ini banyak ditemukan di Indonesia, terutama di Pulau Kalimantan dan umumnya memiliki cadangan yang kecil (< l juta Ton). Salah satu cebakan terbesar yang pernah ditemukan dan dieksploitasi terdapat di Gunung Tanalang, Kalimantan Selatan, dengan cadangan sebesar 5 juta Ton.

Cebakan Bijih Besi “Placer

Cebakan terbentuk oleh proses pelapukan, disintregasi dan akumulasi secara mekanik; menghasilkan endapan yang terdiri atas fragmen mineral dan batuan rombakan. Mineral bijih besi ini dapat ditemukan dalam aluvium pantai dan sungai yang disebut pasir besi. Karena melalui proses mekanik, maka kemurnian susunan fragmen rombakan dipengaruhi oleh intensitas liberasi selama proses tersebut. Secara umum mineral bijih besi berasal dari sumber batuan volkanik bersusunan andesitik dan basaltik yang kaya akan mineral mengandung unsur besi. Karena mengalami proses pelapukan maka mineral dengan kandungan besi pada batuan-batuan induk ini terlepas dari pengikatnya, tererosi dan terbawa oleh aliran air permukaan atau air sungai untuk diendapkan sebagai mineral berat. Karena gaya gravitasi dan sifat resistan maka sebagian daripada mineral berat tersebut terbawa oleh aliran air permukaan dan sungai ke arah laut. Disepanjang pantai yang landai dengan pengaruh gelom-bang laut yang cukup kuat maka butiran-butiran mineral rombakan akan dihempaskan ke daratan atau kebelakang garis pasang surut. Ketika air kembali ke laut, daya angkutnya sudah berkurang sehingga memisahkan hanya mineral ringan dari mineral berat; sedangkan mineral berat terutama bijih besi diendapkan didaratan pantai. Akibat proses pencucian dan konsentrasi secara alamiah secara berkesinambungan maka terbentuklah endapan pasir besi. Proses pengayaan pasir besi kadang-kadang dibantu oleh kuatnya tiupan angin yang mampu membawa mineral ringan, sehingga akumulasi pasir besi sangat kaya akan kandungan mineral magnetik. Terdapat hubungan pembentukan cebakan pasir besi dengan gumuk pasir atau dune. Gumuk pasir yang berdekatan dengan garis pantai disebut front dune, biasanya merupakan gumuk pasir yang letaknya terpisah satu sama lain dengan jarak sekitar 10 sampai 20 meter dan umumnya tertutup oleh semak belukar. Sedangkan gumuk pasir yang terletak paling belakang atau back dune, merupakan sederetan bukit pasir yang memanjang sejajar pantai dengan ketinggian sekitar 3-5 meter diatas permukaan laut. Endapan pasir pantai yang mengandung mineral magnetik tinggi umumnya menempati bagian belakang dari front dune, dengan kumpulan mineral membentuk lensa hampir teratur sepanjang garis pantai. Ketebalan lensa ini beragam dari beberapa centimeter sampai beberapa meter dengan diselingi oleh lapisan pasir berkadar magnetik rendah. Ada dua jenis endapan pasir, yang terletak diatas permukaan laut dan endapan pasir dibawah permukaan air laut atau dibawah permukaan air laut (0,00 meter). Endapan pasir yang pertama terletak di atas permukaan air laut, umumnya terdiri dari pasir berbutir halus sampai sedang, berwarna abu-abu sampai kehitaman, setempat berselang-seling dengan endapan lempung atau kerikil dengan penyebaran tidak merata. Sedangkan endapan pasir yang kedua disusun oleh pasir berbutir sedang kasar, fragmen batuan, kerikil dan cangkang kerang. Kadar magnetik pada endapan ini umumnya tidak begitu tinggi, tetapi beberapa tempat hampir mendekati lapisan dasar dengan akumulasi magnetik membentuk lensa-lensa yang penyebarannya tidak merata.

Cebakan Bijih Besi Laterit

Cebakan ini merupakan hasil proses pelapukan, dekomposisi dan akumulasi residu. Karena pembentukan cebakan melibatkan proses kimiawi atau mekanis maka pelarutan dan pengendapannya dikendalikan oleh lingkungan setempat termasuk kondisi geologi dan fisika-kimia. Lingkungan yang terbaik untuk terjadinya proses laterisasi adalah sebagai berikut :

1. Iklim tropis yang basah.

2. Topografi yang relatif tidak curam.

3. Waktu proses yang cukup lama.

Di Indonesia jenis cebakan ini terdapat dalam jumlah yang besar (ratusan juta ton), terutama di Kalimantan Selatan, Maluku, Papua dan Sulawesi Tenggara ( Lihat lampiran Tabel 1, 2 dan 3)

Sifat-sifat dari cebakan ini adalah :

1. Tekstur atau struktur perlapisan laminasi dapat terlihat jelas karena berasosiasi dengan batuan sedimen.

2. Dapat berupa lapisan yang kompak atau masif dan dapat berupa breksi atau konglomerat, sering mengandung bongkah-bongkah atau kerikil peridotit.

3. Komposisi mineral besi beragam, ada yang berupa karbonat, silikat besi, magnetit dan hematit.

4. Kadar Fe berkisar antara 40%- 60%.

5. Mengandung kadar Ni dan Cr yang lebih rendah dari jenis lateritik yaitu rata-rata 0,41% Ni dan 2,1% Cr203, hususnya yang berasal dari bijih besi laterit.

6. Dapat mengandung bijih besi bog iron, dengan kandungan belerang dan mangan yang tinggi, sedangkan yang berasal sumber air panas dapat mengan-dung belerang yang relatif lebih tinggi.

7. Kadar AI lebih rendah dari tipe lateritik yaitu sekitar 7%.

8. Karena sering adanya perlapisan pemisah bijih besi, kadar Fe dan unsur-unsur lainnya yang terkan-dung dapat beragam secara lateral maupun vertikal.

Cebakan Bijih Besi Sedimen

Pembentukan cebakan ini berhubungan dengan proses sedimentasi. Proses kimia mempunyai peran utama dalam proses pengendapannya, dengan disintegrasi mekanis sebagai penyebabnya, seperti yang terjadi pada sebagian cebakan bijih besi disekitar jenis lateritik. Bog iron dapat terbentuk bila larutan yang mengandung besi terakumulasi dalam suatu cekungan pengendapan. Bijih besi ini juga dapat terbentuk oleh proses kimia atau akibat pekerjaan bakteri seperti yang dihasilkan oleh sumber air panas (endapan sinter).

Distribusi cebakan Bijih Besi Indonesia

Cebakan bijih besi dan indikasi mineralisasi besi terpenting yang telah di ketahui di Indonesia terdapat di pulau-pulau Sumatera, Kalimantan, Nusa Tenggara, Papua, dan Sulawesi (Gambar. 1). Cebakan bijih besi placer yang telah dikenal berada di pantai Selatan Jawa Barat dan Jawa Tengah, dengan kandungan Fe antara 8%-40%. Melalui proses pemisahan secara magnetik, diperoleh konsentrat pasir besi dengan kadar Fe 60%. Indikasi cebakan bijih besi sedimen tidak banyak diketahui di Pulau Jawa, meskipun pernah ditemukan di wilayah Jawa Timur. Sementara bog iron diketahui terdapat di Cipurug, Kabupaten Serang, yang kemungkinan mempunyai kadar Fe sekitar 18%. Di Ciater diketahui adanya tipe sedimen yang berasal dari sumber air panas dengan jumlah cadangan 500 ribu ton dan kadar Fe2O3 antara 30 % – 60 % serta kadar P2O5 sekrtar 20 %. Cebakan bijih besi placer yang potensial hanya terdapat disepanjang pantai selatan Pulau Jawa, biasanya terkandung dalam endapan pasir pantai yang telah ter-konsolidasi. Mineral-mineral besi terdiri atas magnetit dan hematit, sedangkan mineral ilmenit merupakan pengotor pada mineral magnetit.

Pasir besi yang ada di Pantai Selatan Jawa Barat diantaranya :

Di Kecamatan Tegal Buleud Kabupaten Sukabumi terletak antara S. Cikaso – S. Cibuni, sepanjang 15 km. dengan sumber daya terukur pasir besi bertitan 5.097.500 ton dengan kadar Fe total 51,18% dan TiO2 1,32-12,65%. Di daerah Salatri Kabupaten Cianjur terletak antara S. Cibuni – S. Cikakap sepanjang 12 km, dengan sumber daya terukur konsentrat pasir besi bertitan 4.330.373 ton dengan kadar Fe total 57,70% dan TiO2 10,66%. Daerah Kecamatan SindanGambararang antara S. Cihurang – S. Cisadea – S. Cipandak sepanjang 21 km, dengan Sumberdaya terukur konsentrat pasir besi bertitan 3.263.067 ton, kadar Fe total dan total 57,67% dan TiO2 13,76%. (Direktorat Sumber Daya Mineral, 1980/1983). Selain itu endapan pasir besi terdapat juga didaerah Pantai Cidaun Kabupaten Cianjur dengan sumberdaya 3.325.500,30 ton konsentrat dengan kadar 57,43% Fe dan 12,73% TiO2. Pantai Selatan Kecamatan Cipatujah Kabupaten Tasikmalaya dengan sumberdaya terukur Pasir Besi 21.280.286,50 ton “crude sand” dengan jumlah sumberdaya terukur konsentrat sebesar 4.214.392,34 ton. Sumber daya besi di pantai selatan Kutoarjo sebesar 57 juta ton konsentrat, Jogya : 28 juta ton dengan kadar 59% Fe, Lumajang dan Purworejo : 49 juta ton dengan kadar Fe 51% dan 59%. Yang dimaksud dengan ‘crude sand” adalah endapan yang belum tersentuh oleh proses pengolahan apapun, masih berbe-tuk longgokan asli yang masih berada di tempatnya secara alamiah. Sedang-kan konsentrat adalah “crude sand” yang telah mengalami proses pengolahan dengan memisahkan bahan yang bersifat besi dengan bahan lainnya melalui proses pemisahan oleh berbagai intensitas magnetic separator. Sebagian besar Cebakan bijih besi laterit di Kalimantan dan Sulawesi berasal dari pelapukan batuan ultra basa, sedangkan di Sumatera berasal dari batuan beku basa. Sifat- sifat yang khas dari bijih besi yang berasal dari batuan ultra basa adalah selalu mengandung khromium (Cr) dan nikel (Ni) yang relatif tinggi. Sumberdaya terukur terbesar yang telah diketahui antara lain : Di Pegunungan Kukusan, Kalimantan Selatan berupa sumberdaya terukur 126.000.000 dengan kadar 47.00% Fe (Direktorat Sumber Daya Mineral, 96); P. Suwangi Kalimantan Selatan dengan sumberdaya terukur 250.000 ton dan kadar 46% Fe; P. Sebuku Kalimantan Selatan sumberdaya terukur 426.497.000 ton dengan kadar 39,82,23% Fe (Direktorat Sumber Daya Mineral, 96); P. Danawan Kalimantan Sefatan sumberdayanya 7.500.000 ton dengan kadar Fe 47% (Direktorat Sumber Daya Mineral, 96). Cebakan bijih besi metasomatik kontak banyak tersebar walaupun sumber dayanya tidak begitu besar. Yang telah dikenal berada di daerah Lampung , Kalimantan Selatan dan Sumatera Barat. Cebakan dari jenis ini telah diidentifikasi di Lampung terdiri atas : G. Waja, dengan sumberdaya terukur 173.743 ton dan kadar Fe 67,45%; Wai – Wai : 835.000 ton dan kadar Fe 48,15 – 67,25%; Ranggal : 1.003.000 ton dan kadar Fe 43,50-66,04%; G. Rajabasa : 115.000. ton dan kadar Fe 69%. Di Kalimantan Selatan terdapat di Tanalang dengan jumlah sumberdaya 5.062.400 ton kadar 51,38 – 58,75% (Direktorat Sumber Daya Mineral, 96). Di Sumatera Barat terdapat di Gn. Batu Besi Air Abu dan Bukit Lolo dengan total Sumber daya sebesar 2 juta ton dan kadar 59% Fe. Cebakan bijih besi tipe metasomatik kontak ini dianggap sangat baik untuk kebutuhan industri baja, karena tidak mengandung pengotor (impuriteis) yang dapat mengganggu proses metalurgi. Kebutuhan bahan baku besi dalam industri alat berat seperti industri baja/konstruksi, otomotif serta industri alat berat lainnya pada tahun-tahun terakhir ini permintaannya meningkat secara tajam. Besi sebagai salah satu bahan baku utama dalam industri baja dan industri alat berat lainnya di Indonesia, keberadaannya akhir-akhir ini memiliki peranan yang sangat penting. Potensi sebarannya luas dan banyak di berbagai pulau di Indonesia, seperti di Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, kawasan Nusatenggara, Kepulauan Maluku ~ Papua. Sejauh ini kegiatan eksplorasi dan inventarisasi berkaitan dengan endapan besi tersebut belum dilakukan secara menyeluruh, dan sistimatis. Keterdapatan/keterjadian endapan besi dapat dikelompokan menjadi tiga jenis. Pertama endapan bijih besi primer, terjadi karena proses hidrotermal, kedua endapan besi laterit terbentuk akibat proses pelapukan dan ketiga endapan besi sekunder ( pasir besi) adalah merupakan kelompok mineral rombakan.

Salah satu potensi endapan besi sekunder yang terdapat di Kepulauan Indonesia terdapat di Kabupaten Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur yang secara geologi sangat dimungkinkan untuk terdapatnya endapan pasir besi. Hasil survey tinjau yang di lakukan di beberapa tempat seperti di daerah pesisir selatan Sikka dan Ende menunjukkan nilai kadar Fetotal nya mencapai 63% dengan TiO2 1%. Rata-rata kadar Fetotal nya diatas 56% dengan TiO2 < 2%, (Bambang N.W., 2005).

Daerah kajian endapan pasir besi secara geografis terletak antara 121,45° ~ 121,65° BT dan 8,80° ~ 8,85° dan secara administratif termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Ende, Kabupaten Ende, Flores. Maksud dari kajian ini adalah untuk mengetahui gambaran umum keberadaan potensi sumber daya pasir besi di daerah pantai selatan Kabupaten Ende, Flores yang diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan referensi bagi investor yang berminat untuk terjun dalam usaha di bidang pertambangan khususnya pasir besi.

Metoda

Pemetaan permukaan dilakukan untuk mengetahui seberapa jauh hubungan antara geologi yang ada dengan pembentukan endapan pasir besi di daerah tersebut. Pengukuran dengan teodolit jenis TO dilakukan untuk membuat baseline dan crossline titik-titik pemboran. Penentuan posisi titik pertama dalam pengukuran referensinya adalah dengan data GPS. Pemboran dilakukan pada daerah pantai yang mengandung pasir besi dengan interval panjang (baseline) 400 meter dan lebar (crossline) 200 meter. Pekerjaan pemboran dilakukan dengan menggunakan bor tangan (hand auger) jenis “Doomer” yang dilengkapi dengan casing berdiameter 2,5 inchi. Proses separasi magnetik dilakukan dengan metode increment. Hasil dari increment dipergunakan untuk menentukan nilai MD. Nilai magnetic degree (MD) diperoleh dari hasil pengukuran berat konsentrat dibagi berat asal dikalikan 100% rumus yang digunakan :

Berat konsentrat

MD = ————————- — X 100 %

Berat asal

Sedangkan untuk mengetahui komposisi dan kadar tiap mineral didalam pasir besi dilakukan analisa unsur Fe2O3, Fetotal, TiO2 dan H2O terhadap sampel yang sudah menjadi konsentrat. Endapan pasir besi yang dimasukan ke dalam perhitungan sumber daya terukur mempunyai MD > 7%. Total sumber daya terukur dihitung dengan cara menjumlahkan sumber daya tiap lubang bor, sedangkan sumber daya konsentrat tiap lubang dihitung dengan rumus

C = (L X t ) X MD X SG

Dimana :

C = Sumber daya dalam ton

L = Luas areal pengambilan bor dalam M²

t = Tebal endapan dalam meter

MD = Magnetic Degree dalam %

SG = Berat Jenis

Bijih besi yang terdapat di alam pada umumnya mengandung kadar besi Fe masih sangat rendah yaitu sekitar 25 – 37% Fe. Bijih besi Fe berbentuk Besi-oksida Fe2O3 atau Fe3O4 bercampur dengan material-material ikutan seperti SiO2, Al2O3, CaO, MgO, TiO2, Cr2O3, NiO2, P, S dan H2O. Untuk meningkatkan kadar besi Fe dalam bentuk konsentrat besi-oksida sampai dengan 56-60% Fe diperlukan teknologi benifisiasi atau peningkatan kadar besi Fe melalui berbagai tahapan proses.

Tahapan proses Benefisiasi tergantung pada struktur fisik dan sifat kimia bijih besi.
a. Apabila bijih besi memiliki sifat magnetic (bijih Magnetit) berbentuk batuan, dilakukan tahapan proses sebagai berikut :
– Crushing I (pemecahan batuan) sampai dengan 10 mesh
– Density Separator (pemisahan dengan perbedaan density)
– Crushing II (penghalusan) sampai dengan -100 mesh
– Grinding Mill sampai dengan – 325 mesh
– Flotation / Slurry (Pencucian)
– Magnetic Separator

b. Bijih besi Magentit berbentuk butiran halus (fines ore), tahapan prosesnya adalah sebagai berikut :
– Density Separator
– Crushing sampai dengan 100 mesh
– Grinding Mill sampai dengan – 325 mesh
– Flotation / Slurry
– Magnetic Separator

c. Apabila bijih besi memiliki sifat geothite (bijih Laterit), dilakukan proses:
– Crushing I
– Crushing II sampai dengan 100 mesh
– Density Separator
– Grinding Mill sampai dengan – 400 mesh
– Flotation / Slurry (pencucian)
– Roasting (pemanggangan) agar menjadi magnetit
– Magnetic separator

Bijih besi Hematit Fe2O3 kandungan Fe-nya bervariasi (low-high grade) biasanya terdapat bersama pengotor silica dan alumina. Proses benefisiasi untuk peningkatan kadar Fe biasanya melalui metoda floatasi. Untuk mempermudah pemisahan melalui proses kering dengan Magntic separator, pada umumnya bijih besi Hematit diubah menjadi bersifat
magnetic melalui proses pemanggangan atau proses oksidasi. Bijih besi Magnetite mempunyai sifat magnet kuat, sehingga proses benefisiasinya menggunakan magnetic separator. Dengan teknik ini maka bijih magnetic dengan kadar Fe dibawah 30% bisa diolah secara ekonomis. Bijih besi Laterite merupakan hasil pelapukan batuan ultra basic, jenis batuannya berupa goethite atau limonite. Kadar Fe-nya tidak terlalu tinggi karena mengandung air kristal. Pada bijih besi berbentuk Pasir besi (fines iron) jenis mineralnya adalah Titanomagnetite dan bersifat magnet kuat. Kandungan Fe relative rendah karena mengandung Titan oksida. Teknologi pengolahan pasir besi sampai dengan menjadi besi konsentrat dilakukan dengan Magnetic separator, sedangkan untuk menjadi besi spons secara komersil telah dilakukan menggunakan teknologi SL/RN. Untuk memproses lebih lanjut konsentrat besi-oksida yang telah memiliki kadar Fe sekitar 60-62% menjadi bahan baku proses ironmaking, maka perlu diketahui teknologi ironmaking yang akan digunakan, misalnya teknologi Direct Reduction Iron (DRI) HYL / MIDREX / SLRN dan Direct Smelting COREX/HISMELT serta teknologi Blast Furnace
akan memerlukan bahan baku konsentrat besi-oksida dalam bentuk Pellet atau Sinter, sedangkan teknologi Direct Smelting DIOS atau teknologi Fluidizing-bed dapat langsung menggunakan konsentrat halus sebagai bahan bakunya.

Teknologi proses Benefisiasi dan Pelletizing dari bijih besi sampai dengan pellet besi adalah sebagai berikut :

A. Proses Peningkatan Kadar Fe (Benifisiasi)
A.1. Proses Penghancuran (Crushing)
Bijih besi dalam bentuk batuan dan masih banyak mengandung kotoran dihancurkan sampai dengan ukuran 1 – 10 mm , selanjutnya butiran yang mengandung besi dipisahkan dari butiran silika, alumina dan lain-lain dengan
peralatan Gravity Separator. Butiran besi yang kadar Fe nya sudah meningkat dihaluskan lagi dengan Crusher sampai dengan ukuran 10 mesh.

A.2. Proses Pencucian dan Flotation
Sebelum dilakukan penghalusan butiran bijih besi 10 mesh dilakukan proses pencucian didalam Tangki Flotation dan diaduk secara terus-menerus sehingga bijih besi halus akan mengendap sedangkan kotoran akan
mengapung.

A.3. Proses Penghalusan
Agar butiran halus bijih besi lebih banyak lagi terpisah dengan kotoran atau mineral-mineral ikutan yang tidak diinginkan, bijih besi dihaluskan lagi sampai dengan 375-400 mesh.
Selanjutnya dilakukan proses pencucian untuk
memisahkan bijih besi dengan silika, alumina, dan material non logam lainnya.

A.4. Magnetic separation
Sebelum dilakukan proses peningkatan kadar Fe melalui metode pemisahan dengan Magnetic Separator, perlu diketahui dahulu besarnya komposisi Fe2O3 dan Fe3O4 didalam bijih besi halus.
Apabila bijih besi bersifat magnet
kuat atau hampir 100% mengandung Fe3O4 maka pemisahan dengan magnetic separator dapat langsung dilakukan, agar material-material non magnet dapat dipisahkan dari besi magnetic. Apabila bijih besi banyak mengandung besi Hematit (Fe203), maka bijih besi halus tersebut perlu dilakukan proses Roasting terlebih dahulu sehingga Fe2O3 dapat diubah
menjadi Fe3O4 yang bersifat magnetic. Setelah dilakukan magnetic separation akan dihasilkan bijih besi halus dengan kadar Fe sekitar 60-62%.

B. Proses Pembuatan Pellet Besi
B1. Proses pencampuran (Mixing)
Agar konsentrat besi-oksida halus dapat merekat membentuk gumpalangumpalan (aglomerisasi) yang disebut pellet basah (green pellet) yang mempunyai kekuatan yang cukup kuat untuk dapat dibawa dan diproses lebih
lanjut, maka besi-oksida halus tersebut perlu dicampur dengan bahan perekat/ binder yaitu bentonit dan kapur dalam jumlah tertentu. Proses pencampuran bijih besi halus dan binder dilakukan dalam alat pencampur (Mixer)

B2. Proses Aglomerisasi
Konsentrat bijih besi yang telah dicampur binder dimasukkan secara kontinyu kedalam mesin pelletizing (Disc pelletizer) yang berbentuk setengah drum/bejana yang berputar pada kecepatan tertentu sambil disemprotkan air
secara kontinyu. Akibat perputaran ini terjadilah gaya centrifugal menyebabkan partikel-partikel halus saling mendekat dan menekan satu sama lain sehingga terbentuklah gumpalan-gumpalan pellet basah (green pellet) sampai dengan ukuran diameter 12 mm. Pellet basah harus memiliki kekuatan tekan 1-5 kg/pellet dan kuat jatuh 5 kali.
Hal ini diperlukan agar
tidak pecah selama proses transportasi dan saat penumpukan di dapur pembakaran.

B3. Proses Pembakaran Pellet
Pellet mentah (green pellet) perlu dikeraskan sehingga menjadi kuat dan tidak pecah didalam tumpukan pellet yang cukup tinggi selama proses reduksi didalam dapur reduksi (HYL, Midrex, Blast Furnace). Pellet mentah dipanaskan pada temperature 250-400 0C selama 5-10 menit pada konveyor berjalan, selanjutnya didalam dapur pembakaran pellet dibakar dari temperature 300-600 0C dan berakhir ketika dapur mencapai temperature 1100-1250 0C.
Dengan pembakaran ini maka pellet matang akan mempunyai kekuatan tekan sekitar 250 kg/pellet.\

  1. Batubara

Mula Jadi

Batu bara terbentuk dari pengubahan sisa tumbuh-tumbuhan yang terjadi selama beberapa ratus juta tahun yang silam. Sesuai dengan bahan asalnya batubara terdiri dari elemen-elemen arang (Carbon), Oksigen, Nitrogen, Hidrogen dan beberapa mineral logam dalam bentuk dan jumlah bayangan (Trace Element) dengan demikian kualitas batubara juga tergantung dari jenis bahan asalnya disamping peningkatan mutu oleh faktor geologi batubara dapat diklasifikasikan menurut tingkatan yaitu Lignit, Sub Bituminusa, Bituminusa dan Antrasit.

Penggunaan

Batubara dapat digunakan sebagai bahn bakar langsung, bahan bakar tidak langsung dan bukan bahan bakar .

Sebagai bahan bakar langsung, batubara digunakan antara lain untuk penggunaan listrik tenaga uap, pabrik semen, industri pembakaran kapur, bata, genteng, keramik, pandai besi dan lain-lain.

Sebagai bahan bakar tidak langsung, batubara harus mengalami proses pengolahan lebih dulu yaitu dengan cara gasifikasi, pencairan, karbonisasi, pembriketan, suspensi dan lain-lain.

Selain bahan bakar, batubara dapat pula dimanfaatkan pada berbagai macam industri yang menggunakannya bukan sebagai bahan bakar, antara lain sebagai elekrodata, reduktor, bahan baku pada industri kimia.

Keadaan Bahan Galian

Indikasi bahan galian jenis endapan Batubara berdasarkan hasil investasi penyelidikan bahan galian maka telah diketahui areal penyebaran endapan atau cebakan yaitu tersebar dalam wilayah Kecamatan Mori Atas yang meliputi : Desa Tomata, Londi, Taende dan Ensa. Dan Kecamatan Bungku Utara yang berbatasan dengan Kecamatan Manmosalato yaitu Desa Kolo Atas Kabupaten Morowali. Klasifikasi cadangan masih dalam bentuk cadangan tereka (infered reserves) dimana kualitas cadangan ini hanya berdasarkan interprestasi dan pengetahuan geologi semata.

Lokasi

Kabupaten Morowali : Desa Tomata, Londi, Taende dan Ensa Kecamatan Mori Atas dan Desa Kolo Atas yang merupakan daerah perbatasan Kecamatan Bungku Utara dengan Kecamatan Mamosalato.

  1. Besi

Mula Jadi

Berasal dari proses pelapukan bantuan ultrabasa.

Umumnya endapan besi yang terdapat di Indonesia adalah endapan metasomik dan hidrotermal, secara geologi endapan besi primer di Indonesia terdapat di daerah kotak antara lapisan sedimen mengandung kapur yang berubah menjadi skam karena intrusi batuan asam intermedier.

Bijih besi sekunder ditemukan baik sebagai bentuk laterit maupun endapan pantai, dalam laterit bijih besi ditemukan sebagai pasir atau batu pasir besi yang mengandung titanium.

Penggunaan

Besi digunakan antara lain untuk industri baja, pembuatan pelat, parang, pisau, pacul dan lain-lain.

Lokasi

Daerah Kecamatan Petasia, Kecamatan Bungku Utara dan Kecamatan Mamosalato Kabupaten Morowali.

Entry filed under: Uncategorized. Tags: , , .

pengnalan HTML puisi cinta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Categories

Recent Posts


%d bloggers like this: