penelitian

July 2, 2009 at 9:40 am 1 comment

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Indonesia merupakan salah satu sentra keragaman pisang dengan lebih dari 200 jenis pisang (Astawan, 2005). Tingginya keragaman ini merupakan peluang potensial untuk memilih dan memanfaatkan jenis pisang komersial yang dibutuhkan oleh konsumen. Sebagai makanan, buah pisang dapat diolah mejadi beragam produk yang lezat antara lain, seperti : keripik, ledre, getuk jus, puree, sale, jam, dan pisang goreng/bakar. Buah pisang juga dapat diolah menjadi tepung, makanan bayi, cuka, cider (wine) dan sirup glukosa. Hampir sebagian besar produk ini sudah diproduksi skala komersial.

Indonesia termasuk salah satu penghasil pisang terbesar di Asia karena sekitar 50 persen produksi pisang Asia berasal dari Indonesia. Relatif besarnya volume produksi nasional dan luas panen dibandingkan dengan komoditas buah lainnya, menjadikan buah pisang tanaman unggulan di Indonesia. Penanaman pisang berskala besar telah dilakukan di beberapa tempat. Antara lain di pulau Halmahera (Maluku Utara), Lampung, Mojokerto (Jawa Timur), dan beberapa tempat lainnya, sehingga Indonesia pernah pengekspor pisang dengan volume mencapai lebih dari 100.000 ton pada tahun 1996, tetapi pada tahun-tahun berikutnya volume ekspor tersebut terus menurun dan mencapai titik terendah pada tahun 2004 yaitu hanya 27 ton (Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2004).

Sedangkan, menurut Dispertan Banyumas (2004), produksi tertinggi pada lima tahun terakhir dicapai pada tahun 2002 sebesar 360.845 kwintal. Namun, pada tahun 2004 produksi pisang mengalami penurunan sangat tajam, yaitu hanya mencapai 189.318 kwintal. Hal ini disebabkan karena banyak terjadi pembongkaran rumpun tanaman yang diakibatkan oleh meluasnya penyakit layu fusarium pada areal pertanaman tersebut.

Tabel 1: wilayah penghasil pisang di Indonesia

No

Propinsi

Pisang

Luas Panen (Ha)

Produktivitas (Ton/Ha)

Produksi (Ton)

1

Sumatra

18.340

41,10

753.730

2

Jawa

43.546

60,28

2.625.134

3

Kalimantan

5.264

46,35

243.975

4

Sulawesi

5.382

43,52

234.217

5

Maluku & Papua

7.734

18,69

144.555

INDONESIA

85.690

48,75

4.177.155

Lebih rinci Astawan (2005) menyebutkan, sentra produksi pisang di Indonesia adalah Jawa Barat (Sukabumi, Cianjur, Bogor, Purwakarta, Serang), Jawa Tengah (Demak, Pati, Banyumas, Sidorejo, Kesugihan, Kutosari, Pringsurat, Pemalang), Jawa Timur (Banyuwangi, Malang), Sumatera Utara (Padangsidempuan, Natal, Samosir, Tarutung), Sumatera Barat (Sungyang, Baso, Pasaman), Sumatera Selatan (Tebing Tinggi, Ogan Komering Ilir, Ogan Komering Ulu, Baturaja), Lampung (Kayu Agung, Metro), Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Bali, dan Nusa Tenggara Barat.

Menurut Widono et al (2003) kendala yang dihadapi di setiap sentra penanaman pisang adalah penyakit layu Fusarium atau penyakit panama. Layu Fusarium merupakan salah satu penyakit pisang yang paling merugikan baik di daerah tropis maupun subtropis. Kerugian ekonomi yang ditimbulkan oleh penyakit ini cukup besar karena menyerang Gross Michel (pisang Ambon), yaitu komoditas yang paling diminati dalam perdagangan pisang dunia (Damayanti, 2004). Layu Fusarium juga menjadi masalah utama dalam pengembangan tanaman abaka (Musa textillis). Pertanaman abaka secara besar-besaran dikhawatirkan menghadapi masalah penyebaran penyakit yang sangat cepat karena varietas yang ada tidak tahan terhadap penyakit layu Fusarium.

Tanaman pisang yang terserang layu Fusarium menampakkan gejala daun menguning dari bagian pinggir pada daun tua seperti gejala defisiensi unsur kalium. Kemudian gejala tersebut berlanjut pada daun muda. Daun kemudian mengalami kematian pada batas tangkai daun dan bagian pseudostem. Jamur Fusarium merupakan patogen tular tanah yang menginfeksi tanaman melalui bagian akar dan masuk ke jaringan xilem pada akar. Pada tingkat lanjut, infeksi sampai pada bagian umbi. Gejala internal Layu Fusarium adalah perubahan warna pada jaringan pengangkut yaitu menjadi berwarna kuning, merah atau cokelat pada bagian akar, umbi bahkan pada jaringan xilem pada batang dan tangkai daun (Moore et al, 1995). Layu Fusarium disebabkan oleh jamur Fusarium oxysporum f.sp. cubense.

Fusarium oxysporum f.sp. cubense terbagi dalam empat ras. Ras 1 menginfeksi pada hampir semua jenis pisang yang tumbuh di berbagai wilayah dan merupakan patogen utama pada pisang Gross Michel (AAA) dan Silk and Pome (AAB). Ras 2 merupakan patogen pada tipe pisang Awak (ABB). Ras 3 menginfeksi pada Heliconia, sedangkan ras 4 patogen pada pisang industri seperti Cavendish (AAA) (Growen, 1997).

Konsep ras didasarkan infeksi patogen pada klon triploid inang yang berbeda. Konsep ini tidak dapat bekerja secara luas dengan baik. Ras tidak dapat menunjuk pada keragaman strain patogen yang sebenarnya dapat identifikasi. Beberapa inang dapat terinfeksi oleh beberapa strain yang berbeda dan tidak dapat disatukan dalam ras tunggal. Strain diidentifikasi menggunakan analisis VCGs (Vegetatif Compatibility Groups) dan kemudian diberi penomoran berdasar aturan yang telah ditetapkan (Buddenhagen, 2007).

Jamur Fusarium mampu bertahan sampai 30 tahun di tanah dalam bentuk klamidiospora sehingga sulit dikendalikan. Sejumlah cara pengendalian telah diteliti, tetapi belum memberikan hasil yang memuaskan. Kultivar pisang merupakan faktor utama terhadap perkembangan penyakit layu Fusarium. Faktor lain yang mempengaruhi adalah drainase, kondisi lingkungan, serta jenis tanah. Oleh karena itu perlu diidentifikasi kultivar yang tahan terhadap serangan patogen layu Fusarium karena perkembangan penyakit ini mampu ditekan dengan menanam kultivar tahan.

Menurut widodo (2004), selama 24 tahun terakhir telah terjadi penelitian fusarium sebanyak 268 penelitian. beberapa peneliti telah melakukan pengujian ketahanan kultivar dalam upaya mencari teknik pengendalian penyakit oleh fusarium, seperti pada tanaman talas, markisa, tomat kentang, gladiol, bawang merah, panili, dan pisang. penelitian layu fusarium pada pisang di Indonesia banyak dilakukan di luar pulau jawa terutama di pulau sumatra yang dianggap sebagai salah satu wilayah penyebaran tanaman pisang. sebagai salah satu sentra produksi pisang di jawa tengah, Banyumas memiliki keragaman tanaman pisang. Oleh karena itu penelitian ini diharapkan memiliki peran penting dalam pengembangan varietas pisang.

Kultivar pisang yang tahan terhadap serangan jamur ini tergolong langka. Akan tetapi, pisang kepok diyakini memiliki ketahanan yang lebih dibanding kultivar lain yang terdapat di Indonesia (Suastika dan Kamandalu, 2005). Menurut Semangun (1994) kultivar Ambon menjadi kultivar yang paling rentan.

  1. Perumusan Masalah

Hubungan patogen dengan inangnya dipengaruhi sistem genetika, baik dari inang maupun patogen dalam kondisi tertentu. Hubungan terjadi apabila terjadi kontak antara inokulum patogen dengan tumbuhan. Tumbuhan dan patogen mempunyai respon satu sama lain dengan berbagai cara (Sastrahidayat, 1992). Perbedaan respon yang menyebabkan perbedaan tingkat ketahanan kultivar pisang terhadap infeksi jamur Fusarium.

Uji ketahanan kultivar pisang terhadap layu Fusarium diperlukan sebagai upaya mendapat kultivar komersial yang mempunyai ketahanan tinggi terhadap infeksi jamur Fusarium. Tiap kultivar digolongkan menurut ketahanannya terhadap infeksi jamur Fusarium dari yang paling tahan hingga paling rentan. Kultivar komersial yang tahan terhadap infeksi jamur Fusarium pada akhirnya dapat dikembangkan sebagai kultivar unggulan.

Berkaitan dengan uji ketahanan kultivar pisang yang banyak dibudidayakan di Banyumas terhadap infeksi jamur Fusarium maka terdapat beberapa permasalahan yang perlu dikaji sebagai berikut:

  1. Adakah kultivar pisang yang tahan terhadap penyakit layu Fusarium yang diakibatkan oleh jamur Fusarium oxysporum f.sp. cubense ras 1 dari 10 kultivar yang diuji?

  2. Bagaimana keragaman sifat ketahanan 10 kultivar pisang terhadap penyakit layu Fusarium yang disebabkan oleh Fusarium oxysporum f.sp. cubense ras 1 dari 10 kultivar yang diuji?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah:

  1. mempelajari keragaman sifat tahan 10 kultivar pisang yang terdapat di Banyumas terhadap Fusarium oxysporum f.sp. cubense ras 1.

  2. mengetahui ketahanan 10 kultivar pisang terhadap Fusarium oxysporum f.sp. cubense ras 1.

D. Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini sebagai berikut.

  1. Diperoleh informasi tentang ketahanan 10 kultivar pisang yang ada di Banyumas terhadap penyakit yang diakibatkan oleh jamur Fusarium oxysporum f.sp. cubense ras 1.

  2. Diperoleh informasi manakah kultivar pisang yang paling rentan dan tahan terhadap penyakit yang diakibatkan oleh jamur Fusarium oxysporum f.sp. cubense ras 1.

  1. KERANGKA PEMIKIRAN

  1. Landasan Pemikiran

Ketahanan suatu kultivar tanaman terhadap infeksi patogen dapat diperbandingkan dengan melihat tingkat kerusakan yang ditimbulkan oleh infeksi suatu patogen terhadap beberapa kultivar yang diuji. Ketahanan dan kerentanan merupakan pengertian yang relatif, tidak mempunyai batas yang tajam. Suatu tanaman dapat tahan terhadap infeksi patogen, atau tanaman terinfeksi tetapi mempunyai mekanisme untuk menekan perkembangan patogen sehingga tingkat kerusakan yang ditimbulkan kecil. Perkembangan patogen yang terhambat mengakibatkan pertanaman secara luas relatif bebas dari penyakit (Sastrahidayat, 1992).

Ketahanan mempunyai beberapa macam bentuk yaitu ketahanan mekanis, kimiawi, dan fungsional. Ketahanan mekanis dan kimiawi terbagi dalam ketahanan pasif dan ketahanan aktif. Ketahanan pasif atau statis, sifat-sifat yang menyebabkan tanaman tersebut tahan terhadap suatu penyakit sudah terdapat sebelum terjadinya infeksi. Ketahanan aktif merupakan ketahanan yang terbentuk setelah terinfeksi oleh suatu penyakit (Sastrahidayat, 1992; Semangun, 1996).

Ketahanan mekanis pasif disebabkan oleh struktur morfologi tanaman yang sedemikian rupa sehingga sukar diinfeksi oleh patogen. Misalnya tanaman mempunyai lapisan epidermis dan kutikula yang tebal. Ketahanan mekanis aktif terutama terdiri atas rekasi ketahanan yang bersifat histologis. Mekanisme ini melalui pembentukan jaringan yang mengisolasi penyebaran infeksi patogen dalam tubuh tanaman yaitu dengan pembentukan lapisan sel yang membatasi bagian tubuh tanaman yang terinfeksi dengan bagian tanaman yang sehat. Disekitar bagian yang terinfeksi dapat terbentuk lapisan gabus, sel-sel yang terisi gom (blendok), sel-sel absisi, dan tilosis (Sastrahidayat, 1992).

Ketahanan kimiawi disebabkan oleh adanya substansi penghambat misalnya asam-asam, minyak, ester, senyawa fenol, dan zat-zat penyamak tertentu. Beberapa senyawa fenol dan zat penyamak terdapat dalam kadar tinggi pada jaringan muda yang tahan terhadap patogen. Senyawa tersebut dapat menghambat kerja enzim-enzim hidrolisis, termasuk enzim pektolitik yang dihasilkan oleh patogen. Bertambah tuanya jaringan mengakibatkan menurunnya kadar zat penghambat tersebut yang berimplikasi pada menurunnya ketahanan jaringan tersebut pada infeksi patogen. Perbedaan ketahanan kimiawi pasif dan aktif yaitu pada ketahanan kimiawi pasif substansi penghambat sudah terdapat pada tanaman sebelum infeksi patogen terjadi sedangkan pada ketahanan kimiawi aktif substansi terbentuk setelah terjadinya infeksi patogen. Mekanisme ketahan kimiawi aktif mirip dengan imunitas pada hewan dan manusia (Sastrahidayat, 1992; Semangun, 1996)..

Ketahanan fungsional terjadi karena tanaman mempunyai mekanisme pertumbuhan yang sedemikian rupa sehingga tanaman dapat menghindarkan diri dari infeksi patogen pada saat melewati fase rentannya (Semangun, 1996). Pada pisang, fase rentan terhadap infeksi patogen penyebab layu Fusarium terdapat pada saat pembungaan (Buddenhagen, 2007).

  1. Hipotesis

Hipotesis yang dapat diajukan dalam penelitian ini sebagai berikut.

  1. Terdapat keragaman tingkat ketahanan kultivar pisang terhadap infeksi Fusarium oxysporum f.sp. cubense ras 1 (BGL).

  2. Terdapat kultivar yang tahan terhadap infeksi Fusarium oxysporum f.sp. cubense ras 1 (BGL).

  1. METODE PENELITIAN

  1. Tempat dan Waktu

Penelitian akan dilaksanakan di screen house laboratorium pemuliaan tanaman Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman, bertempat di desa Karangwangkal Kecamatan Purwokerto Utara Kabupaten Banyumas. Penelitian dilaksanakan selama 6 bulan, mulai Februari 2008 sampai Agustus 2008.

  1. Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

  1. Bibit 10 kultivar pisang (Kepok, Ambon, Lempeneng, Kidang, Enthok, Ampyang, Raja, Raja Nangka, Rayap, dan Emas).

  2. Pupuk kandang

  3. Inokulan (Fusarium oxysporum f.sp. cubense Ras 1)

  4. Akuades

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

  1. Pisau

  2. Polibag

  3. Kompor minyak

  4. Penggaris

  5. Gelas ukur

  6. Oven

  1. Rancangan Percobaan

Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Petak Terbagi/Split Plot Design (RPT/SPD) dengan rancangan dasar Rancangan Acak Lengkap (RAL) 3 kali ulangan. Inokulasi Fusarium sebagai petak utama (main plot) dan kultivar pisang sebagai perlakuan utama (main ).

  1. Variabel yang Diamati

Variabel-variabel yang diamati adalah sebagai berikut.

  1. Tinggi tanaman (cm)

Tinggi tanaman diukur dengan penggaris dari permukaan media sampai dengan puncak pseudostem. Pengukuran dilakukan setiap tujuh hari sekali. Satuan tinggi tanaman adalah sentimeter (cm).

  1. Diameter batang (cm)

Diameter batang diukur setiap tujuh hari sekali. Pengukuran dilakukan dengan mengukur lingkar batang bagian tengah. Panjang lingkar batang merupakan keliling dari lingkaran. Panjang diameter dihitung dari keliling lingkaran. Satuan diameter adalah sentimeter (cm).

  1. Waktu munculnya gejala (HSI)

Diamati dengan ukuran hari munculnya gejala layu fusarium setelah inokulasi dilakukan. Satuan munculnya gejala adalah hari setelah inokulasi (HSI).

  1. Skoring skala DSI yang didasarkan pada LSI dan RDI

Menurut Mak et al. (1996), tingkat keparahan penyakit diamati berdasarkan Leaf Symptom Index (LSI) dan Rhizome Discoloration Index (RDI), yang akan dihitung dengan rumus Disease Severity Index (DSI).

LSI diamati dengan skala:

1 = tidak ada lapisan daun yang menguning/tanaman tampak sehat.
2 = sedikit lapisan bergaris dan/atau menguningnya daun bagian bawah.

3 = 3 lapisan bergaris dan/atau menguningnya sebagian besar daun bagian bawah.

4 = meluasnya lapisan bergaris dan/atau menguningnya pada sebagian besar atau seluruh dedaunan.

5 = tanaman mati.

Sedangkan, RDI diamati dengan skala:

1 = Tidak ada pelunturan warna di jaringan pada wilayah stele di perakaran atau di sekeliling jaringan.

2 = Tidak ada pelunturan warna pada wilayah stele di rizoma; pelunturan pada persimpangan akar dan rizoma.

3 = Terdapat jejak pelunturan sampai dengan 5% pada wilayah stele.

4 = 6-20% dari wilayah stele meluntur.

5 = 21-50% dari wilayah stele meluntur.

6 = Lebih dari 50% wilayah stele meluntur.

7 = Pelunturan pada keseluruhan stele di rizoma.

8 = Tanaman mati.

Keterangan:

NS = Nunber on scale

NoS = Number of seedlings on that scal

NoTs = number of treeted seedling

Skala DSI yaitu sebagai berikut,

Tabel 1. skala DSI

Skala DSI pada LSI

Skala DSI pada RDI

Keterangan

1

1

Resistan

antara 1.1 dan 2

antara 1.1 dan 3

Toleran

antara 2.1 dan 3

antara 3.1 dan 5

Rentan

antara 3.1 dan 4

antara 5.1 dan 8

Sangat rentan

  1. Analisis Data

Data yang diperoleh, ditabulasikan. Kemudian dianalisis menggunakan analisis ragam (Uji F) jika nyata, dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf kesalahan 5%.

  1. Pelaksanaan Penelitian

Penelitian ini meliputi kegiatan-kegiatan sebagai berikut.

  1. Persiapan

Media yang akandigunakan dalam penelitian ini berupa tanah, pasir, dan pupuk kandang dengan perbandingan 1:1:2. Media yang telah dicampur kemudian ditimbang seberat 10 kilogram dan dimasukkan kedalam kantong plastik. Selanjutnya media disterilisasi dengan cara di steam dengan uap air panas selama 5 jam.

  1. Penanaman

Bibit yang digunakan adalah pisang 10 kultivar yang banyak terdapat di daerah Banyumas. Bibit dipilih dengan kriteria sehat, pertumbuhan baik, serta berukuran sehomogen mungkin yang dilihat dari tinggi tanaman, jumlah daun, maupun besaran bonggol.

  1. Inokulasi penyakit

Inokulasi dilakukan dengan cara menyiramkan inokulan (kepadatan 8,053 X 107 spora/ml) kedalam media tumbuh tanaman. Sebelumnya akar primer dari empat arah berawanan dilukai menggunakan pisau.

  1. Pemeliharaan

Pemeliharaan yang dilakukan meliputi penyiraman, pengendalian gulma dan pemupukan.

  1. Pengamatan dan pengukuran

Pengamatan dan pengukuran terhadap variabel yang diamati.

  1. Jadwal Pelaksanaan

Penelitian akan dilaksanakan sesuai dengan jadwal kegiatan sebagai berikut.

No

Kegiatan

Bulan

I

II

III

IV

V

VI

1

2

3

4

1

2

3

4

1

2

3

4

1

2

3

4

1

2

3

4

1

2

3

4

1

Persiapan

2

Penanaman

3

Pemeliharaan

4

Inokulasi

5

Masa Inkubasi

6

Pengamatan

DAFTAR PUSTAKA

Astawan, M. 2005. Pisang, Buah Kehidupan. Dinas Kesehatan Sulawesi Tenggara. (on line) 12 Januari 2008. http://dinkes.sultra.org/index.php?modul=cms&do=read%id=33.

Buddenhagen, I. 2007. Understanding Banana and Pathogen Strain Diversity and Their Origins to Better Manage Banana Production and Fusarium Wilt Where “Tropical Race 4” is Indigenous or Recently Introduced. Makalah disampaikan dalam Seminar Internasional Fusarium Himpunan Mahasiswa Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto, Oktober 2007.

Damayanti, F. 2004. Filtrat Fusarium oxysporum untuk Ketahanan terhadap Penyakit Layu Fusarium. Bioscientiae (1): 11-22 (on line) 12 Januari 2008, http://bioscientiae.tripod.com.

Growen. 1997. Bananas and Plantains. Dalam: RJ. Hilloks and J.M. Waller (Eds). Soilborne and Disease of Tropical Crops. CAB International. Cambidge Unversity. UK.

Mak, C., A.A. Mohamed., K.W. Liew., and Y.W. Ho. 1996. Early Screening Technique for Fusarium Wilt Resistance in Banana Micropropagated Plants. Universiti Malaya, Universiti sains Malaysia. United Plantation. Bh. 50603. Kualalumpur, Malaysia. (on-line), diakses 24 Maret 2008 http://www.fao.org/docrep/007/ae216e/ae216e0k.htm

Mardinus. 2006. Jamur Patogenik Tumbuhan. Andalas University Press. Padang.

Moore, N.Y., Bentley, K.G. Pegg, And D. R. Jones. 1995. Fusarium Wilt of Banana. International Network for The Improvement of Banana and Plantain (INIBAP). (online) diakses 23 Januari 2008, http:/www.biofersityinternational.org/publications/pdf/702.pdf.

Sastrahidayat, I.R. 1992. Ilmu Penyakit Tumbuhan. Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang. Malang.

Semangun, H. 1996. Ilmu Penyakit Tumbuhan. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.

Widono, S., C. Sumardiyono dan B. Hadisutrisni. 2003. Pengimbasan Ketahanan Pisang terhadap Penyakit Layu Fusarium dengan Burkholderia cepacia. Agrosains (5). (on line) 16 januari 2008. pertanian.uns.ac.id/agronomi/agrosains/peng_ketahanan_pisang_salimwidono.pdf.

Dispertan Banymas. 2004. Data Indeks Pertanian Kab. Banyumas 2004. Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab. Banyumas.

Widodo. 2004. Status Fusarium sebagai patogen tanaman di Indonesia. Prosiding Simposium Nasional tentang Fusarium. Purwokerto, 26-27 Agustus 2004, hal. 38-58.

Mak, C et al. 1996. Early Screening Technique for Fusarium Wilt Resistance in Banana Micropropagated Plants. Universiti Malaya, Universiti sains Malaysia. United Plantation. Bh. 50603. Kualalumpur, Malaysia. (on-line), http://www.fao.org/docrep/007/ae216e/ae216e0k.htm diakses tanggal 24 Maret 2007

Utami, D. S. dan E. Mugiastuti. 2005. Pengoptimuman Manfaat Mahkota Dewa (Phaleria papuanaWarb.) Melalui Kajian Aplikasi dalam Pengendalian Penyakit Layu Fusarium dan Peningkatan Hasil Cabai Merah. Laporan Penelitian. Fakultas Pertanian UNSOED, Purwokerto. 43 hal. (tidak dipublikasikan).

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 2004. Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis: Dukungan Aspek Teknologi Pascapanen. (on-line), http://www.litbang.deptan.go.id/favinco.ico/b3pisang.htm tanggal 24 Maret 2007

Departemen Pertanian. 2003. Luas  Panen, Produktivitas  dan  Produksi  Buah-Buahan Tahun  2003  (Angka  Tetap). (on-line), http://www.deptan.go.id/ditbuah/komoditas/data_pisang.htm diakses tanggal 24 Maret 2007

Anonim. 2005. Tanaman Obat di Indonesia. (on-line), http://www.iptek.net.id/ind/pd_tanobat/index.php diakses tanggal 24 Maret 2007

Entry filed under: Uncategorized. Tags: .

KELOMPOK UJI TAK RUSAK & PERUNUT INDUSTR pengnalan HTML

1 Comment Add your own

  • 1. tiram kuranji  |  January 26, 2011 at 2:58 pm

    tlg d tulis lbh detil untk sruktur jaringan
    soal nya sangat membantu kuliya saya

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Categories

Recent Posts


%d bloggers like this: