NII kw9

July 11, 2009 at 9:39 am 1 comment

Nasib Anak Aparat di NII Zaytun


Sungguh menyedihkan memang nasib aparat – aparat teritorial baik yang sebagai mas’ul musa, ibrahin dan sholeh. Bagaimana tidak, jika ternyata kesedihan dan kepedihannya juga harus dirasakan juga oleh anak – anaknya yang hendak mau melanjutkan sekolah menjadi santri di Al Zaytun. Perjuanganan dan pengorbanan orangtuanya yang sebagai aparat teritorial tetap tidak membuat hati, perasaan AS Panji Gumilang sedikitpun bergeming untuk memperhatikan mereka ketika mencoba untuk menjadi santri. Padahal AS Panji Gumilang, melalui aparat – aparat dibawahnya bahwa orang – orang dalamlah yang akan diprioritaskan terlebih dahulu untuk menjadi santri di Ma’had Al-Zaytun, disamping karena latar belakang sebagai ujung tombak pencari dana dan jama’ah, juga memang karena sebelumnya bahwa anak – anak dari aparat – aparat territorial tersebut telah mengikuti iuran program TPA [ tabungan pendidikan anak ] tiap bulan, yang memang telah diprogramkan dan digariskan dari atas. Dan statement – statement dari AS Panji Gumilang dan pimpinan – pimpinan lainnya, yang menyatakan bahwa anak – anak orang dalam itu gratis [ tanpa beaya ] bila mengikuti pendidikan di Ma’had Al-Zaytun. Tapi itu cerita dulu, sebelum Al Zaytun begitu pesat perkembangannya. Ini kentara benar ketika Al-Zaytun sukses pada penerimaan perdana calon – calon santri, namun setelah yang kedua, ketiga dan seterusnya dan seterusnya pada setiap penerimaan santri, jauh panggang dari api.

Memang karena orangtuanya yang telah habis – habisan demi untuk NII KW IX Abu Toto, dan persepsi bahwa orangtuanya sebagai aparat teritorial, maka otomatis pula anaknya yang akan jadi calon santri tak perlu repot – repot lagi akan beayanya, karena informasi demikian yang diperoleh dari atasannya begitu, sehingga berangkat ke Al-Zaytun tanpa uang yang jauh dari memadai, katakanlah hanya cukup untuk jajan sehari , ya bagaimana orangtuanya punya duit darimana untuk membayar secara cash biaya pendaftaran dan beaya pendidikan yang berpuluh juta lebih itu. Dan ternyata dugaannya benar ketika pas pelaksanaan pendaftaran calon – calon santri, dan si calon santri itu bingung saat ditanyakan mana uangnya untuk disetor ke Bank Akhirnya si calon santri anak territorial itu sedih, menangis dan bingung harus berbuat bagaimana. Pada saat yang demikian ada seorang muadhof yang melihat anak tersebut, lalu didekatinya kemudian ditanyakan,’’ ada apa nak kok menangis disIni,’’ habis bagaimana bi [ singkatan panggilan Abi yang artinya Bapak/ Pak ] , saya kesini tidak diberi uang yang cukup, kecuali uang sedikit untuk beli aqua dan roti beberapa hari saja dan saya tidak ada uang untuk beaya yang harus disetorkan, itupun saya sudah tidak makan dari kemarin, kecuali aqua semata,’’ begitu cerita anak tersebut memelas. Mendengar cerita tersebut si muadhof lantas membawa anak tersebut untuk diajak memakan jatah makannya.

Sampai disini terus ada pertanyaan lalu bagaimana anak – anaknya muadhof yang disini yang mau menjadi calon santri Al Zaytun, tentu pasti diterima sekalipun dengan potongan – potongan gajinya tiap bulan, jika tidak diterima anak – anaknya muadhof maka akibatnya akan fatal bagi AS Panji Gumilang dan Al-Zaytun sendiri karena nanti dampaknya muadhof bisa mogok kerja dan demo sehingga mengganggu kelancaran pembangunan sarana dan prasarana di Ma’had Al Zaytun.

sources : ncc

Diposkan oleh Aji Cemerlang di 8:13 0 komentar Link ke posting ini

Rabu 24 Juni 2009

NII-KW IX Bukan NII Kartosuwiryo

Sources : Arsip Gatra

MANTAN Kuasa Usaha Daarul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) H Abdul Fathah Wirananggapati, mengatakan, keberadaan Negara Islam Indonesia Komandemen Wilayah IX (NII-KW IX) tidak ada kaitannya dengan NII Kartosuwiryo.

“NII Kartosuwiryo telah berakhir sejak tahun 1962, dan sampai tidak ada gerakan itu lagi,” katanya pada wartawan seusai Tablig Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI), di Masjid Istiqomah, Bandung, Minggu.

Ditambahkannya, meski muncul gerakan yang memakai nama sejenis atau menggunakan nama Islam pasca tahun tersebut, tapi itu bukan dari orang-orang NII Kartosuwiryo.

Kini, sisa-sisa mantan pejabat NII Kartosuwiryo yang masih hidup hanya empat orang, di antaranya, Adah Jaelani, Masduki, dan Abdul Fathah.

“Mereka sudah sepenuhnya tidak berniat lagi untuk beraktivitas melanjutkan perjuangan DI/TII,” katanya seraya berharap agar adanya NII-KW IX jangan dikait-kaitkan dengan NII Kartosuwiryo.

Ia menambahkan konsep negara juga telah berbeda jika NII Kartosuwiryo ingin menegakkan syari`at Islam dan menjalankan kenegeraan sesuai Al-Qur`an, sedangkan NII-KW IX hanya produk kepentingan politik tertentu.

NII Kartosuwiryo tidak pernah meminta-minta pada umatnya untuk menyumbangkan demi kepentingan politik atau melakukan penipuan,” ucap Abdul Fathah yang pernah membai`at pimpinan DI/TII Aceh Daud Bereuh menanggapi pertanyaan ANTARA tentang modus penipuan yang dilakukan NII KW-IX terhadap pengikutnya dengan mengeruk uang.
Lebih jauh, diungkapkannya, demikian juga dengan kegiatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang sedang berlangsung saat ini tidak ada kaitannya sama sekali dengan gerakan DI/TII.

Politik

Mantan Kapendam III Siliwangi dan Kepala Biro Humas Depdagri RI Kol (Purn) HY Herman Ibrahim, mengungkapkan, berdasarkan pengalaman sejarah NII KW-IX memang benar-benar ada tapi berkolaraborasi dengan intelijen pemerintah dan digunakan untuk menghancurkan NII itu sendiri.

“Maka dari pengalaman empirik bisa diambil kesimpulan bahwa penangkapan orang-orang NII yang dikaitkan dengan KW-IX hanyalah sebuah trik politik untuk membuat kesan Indonesia sungguh-sungguh melawan terorisme yang stigmanya senantiasa ditujukan pada Islam,” paparnya.

Disebutkannya, sebenarnya dalam sejarah NII Jawa Barat kata KW-IX tidak pernah dikenal, karena DI/TII hanya memiliki tujuh komandemen wilayah. “Dari sini bisa menjadi pertanyaan apakah NII-KWIX yang dipimpin oleh pimpinan Pontren Al-Zaytun adalah NII yang benar-benar menjalankan syari`at Islam,” sambungnya.

Dalam pandangan orang-orang NII sendiri, keberadaan NII KW-IX tidak lebih dari kelompok yang mengkhianati negara Islam sebelumnya.

Herman juga menceritakan salah satu pemanfaatan tokoh-tokoh NII yang dilakukan intelijen rezim Soeharto dengan iming-iming untuk menghancurkan komunisme, seperti membentuk Komando Jihad dibawah pimpinan Panglima NII H Ismail Pranoto (Hispran).

Kemudian gerakan tersebut dijebak untuk melakukan tindak kriminal, antara lain, merampok pom bensin, dan pembunuhan dosen Universitas 11 Maret, hingga pemerintah menghancurkan gerakan itu dengan dalih telah melakukan kejahatan kriminal.

“Tokoh-tokohnya ditangkapi dan dijebloskan ke dalam penjara, seperti, Adah Djaelani, Tahmid Basuki Rahmat, bahkan Danu Hasan dihilangkan nyawanya secara misterius,” tegasnya. [Dh, Ant]

Minggu 21 Juni 2009

Video NII KW9 Mahad Al-Zaytun

Telusur NII KW9 by TV-One

Metro-TV

Diposkan oleh Aji Cemerlang di 18:40 0 komentar Link ke posting ini

Entry filed under: Uncategorized. Tags: .

wallpaper batik

1 Comment Add your own

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Categories

Recent Posts


%d bloggers like this: